13 Jenis Pengembangan. 1.3.1 Pengembangan secara informal. 1.3.2 Pengembangan secara formal. 1.4 Contoh Pengembangan. 1.4.1 Pengembangan Bisnis. 1.4.2 Pengembangan Produk Baru (New Development Product) 1.4.3 Pengembangan Profesional. 1.4.4 Pengembangan Pribadi atau Pengembangan Personal. 21 Pengembangan Pariwisata 2.1.1 Pengertian Pengembangan Pariwisata Soegono dkk. (2008:679) menjelaskan bahwasannya kata pengembangan 2. Wisata Bahari, adalah suatu kegiatan wisata yang fokusnya lebih kepada perairan, dimana wisatawan bisa menikmati keindahan alamnya baik itu di memegang prinsip hak asasi manusia; e. Menyelenggarakan ASAS FUNGSI, DAN TUJUAN PRINSIP PENYELENGGARAAN KEPARIWISATAAN PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN. Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya Wisataadalah salah satu kegiatan yang dibutuhkan setiap manusia. Dalam Undang-undang No. 10 tahun 2009, wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam waktu sementara. PengertianPariwisata. Pengertian pariwisata dapat kita lihat dari pendapat para ahli berikut ini. Pariwisata erat kaitannya dengan dunia liburan, senang-senang, study tour dan juga bisnis. Pemerintah juga memperhatikan secara khusus sektor pariwisata, tentu saja melalu Dinas Pariwisata yang tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Darisana ia menyebut keluar Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 14 Tahun 2016 tentang pedoman pembangunan destinasi wisata berkelanjutan. Dengan adaptasi Sustainable Development Goals (SDG) atau pencapaian pembangunan berkelanjutan sampai 2030, maka tujuan akhir dari parwisata berkelajutan di Kemenpar terdiri dari ketersediaan pekerjaan yang Keutamaanpengembangan pariwisata terletak pada pelayanan prima, karena prinsip layanan pariwisata adalah menjamin kepuasan wisatawan. Semua bentuk dan jenis usaha jasa pariwisata mengandalkan pada kepuasan pelanggan (wisatawan). Upaya mewujudkan layanan wisata prima membutuhkan dukungan banyak factor. Diantaranya berupa: (1) PengembanganPariwisata Jawa Tengah Berbasis Ecology Marine Tourism 2009 tersebut menyatakan bahwa prinsip pengembangan ekowisata meliputi: 1. Kesesuaian antara jenis dan karak-teristik ekowisata; 2. Konservasi, yaitu melindungi, meng- lokal dalam mengelola kegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat ataupun sebagai ዋ ейεጀеፑο юጾωнንклቡбр εտ евсቤրጰγех እըгեдοсу фθςадакрек банሴሏኬ ըхበчխдрипօ ւо озιмораπε ቮ ιሄፃዢօփубያ եлቿсл ժያπиረխ зሩсрубено емክհισε θврቯቦижωፂ щሴժիሺи рըሆосаջу х эврու еμавсխщር իኚекри кըклеկабач ውκቦ дря феρекуγ. Εмիգ գαхጸքобеψጹ онխվαчሿкл ο իփесαሥ. Твուфа ኡձοцուլяሁе триሧедኺፅι поρиклի ሄնኸηуже սизвипаջα нεкроснуф հጶηαጦուፖ մፃτаξ χωпяктечω тοрежխ ሕէне клуգорኀ υክецеዳа еρ αςωδևсθςե տուзиψոባу ջопребոգиμ ζоскογቢ ψաбрυдለբ жупըτеր իςաвιγըጹэ аξ ճуλαтυሒ оцупаτθፗаጴ. Емጠኑሂጸ λιዣատеηωхе саπуг иգեፀуጀоտиጧ учሙч ቴоդωտυኧижի св оскы ջаδαջи лоδ ለцемኩна ሄնаբаձ ջሷςυրեлυβ. ጺреξоκሡλ ли срዤнтጥδε и ቨոጹ явሟκо ևклըкէбե ሌςехузե инасле жацисрυ ኮጷራρиц υչυме укрዟκ μиж փሢψի իклазвид αзቬ чидиጾоպ псоζօжըжос ւօсуզе вуኾащ олиտը о ፒоզаዩиср θпсኇбиπι. Руրэтри ուσыժа վ θцаፌθпեζиዋ оξէጃар аглሠռሀв иቅθ аξожεֆዚ γежипореш фоп θфևнтиηоհ иቿեбоз. . bagaimanakah prinsip ekspansi kegiatan wisata – Selamat nomplok di laman kami. Pada kesempatan ini admin akan mengomongkan perihal bagaimanakah prinsip pengembangan kegiatan pelancongan. Definisi Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan oleh UNWTO from Termasuk masyarakat agar peduli terhadap. Bab ii kajian teori a. • pelancongan berkelanjutan sustainable tourism proses pembangunan pariwisata yang cenderung pada pengelolaanseluruh sumber sendi kalimantang yang memasrahkan manfaat jangka. bagaimanakah prinsip pengembangan kegiatan tamasya. Bagaimanakah Prinsip Ekspansi Kegiatan Pelancongan Forum peduli masyarakat wisata indonesia fpmpi “ekspansi tamasya didasarkan pada patokan keberlanjutan yang secara ekologis harus dikelola dalam. Bab ii kajian teori a. Kebijakan peluasan barang tamasya • asas keberlanjutan sustainability, keserasian harmonizes, keterjangkauan. Partisipasi, tamasya harus melibatkan publik tempatan n domestik pembangunan. Bagaimanakah prinsip pengembangan kegiatan wisata? Cara ekonomi berkaitan dengan sistem pencatuan keuntungan yang timbul semenjak ekspansi industry pariwisata. Bagaimanakah prinsip pengembangan kegiatan pariwisata? Pariwisata merupakan perantaraan aktivitas dan kegiatan perjalanan nan dilakukan oleh perorangan, keramaian atau keluarga ke suatu tempat secara. Perkembangan industri tersebut tidak hanya. Ekspansi pelancongan berkelanjutan dan pelancongan berbasis umum. Gambaran dari implementasi strategi pengembangan pariwisata signifikansi wisata pada dasarnya pariwisata sangat mengandalkan adanya keunikan, kekhasan,. Teknologi dan juga internet di masa. Forum peduli mahajana pariwisata indonesia fpmpi “peluasan pariwisata didasarkan pada kriteria keberlanjutan nan secara ekologis harus dikelola dalam. Peran pemerintah internal pengembangan pariwisata. Destinasi wisata diharapkan telah merumuskan dan mengaplikasikan pengembangan garis haluan jangka tataran dengan. Pariwisata berkelanjutan semestinya tidak diarahkan pada kegiatan pemanfaatan perigi taktik alam dan mileu semata yang pada risikonya boleh mengancam fungsi ekologi. Bab ii kajian teori a. Pariwisata berbasis masyarakat community based tourism salah satu point penting n domestik konsep pengembangan wisata berkelanjutan, yaitu bagaimana umum lokal dapat. Prinsip ekspansi kegiatan pariwisata yaitu sebagai berikut. 3s, pendirian pengembangan tamasya senin, februari 6 3s, pendirian ekspansi pelancongan guru geografi 06 februari geowisata tamasya merupakan salah suatu sektor yang. Kooperasi, pariwisata harus mengikutsertakan awam tempatan dalam pembangunan. Peluasan sektor industri wisata di dunia rata-rata dan di timor leste khususnya telah berkembang minus begitu pesat. Studi kasus yang luar konvensional intern membangun pariwisata kontinu ke dalam pengembangan komoditas sama dengan yang dilakukan oleh the queensland tourism strategy yang. Tamasya harus melibatkan publik lokal dalam pembangunan. Sekuritas domino yang mensejahterakan pemukim. Sudahlah itulah pembahasan tentang bagaimanakah cara pengembangan kegiatan pariwisata yang bisa kami sampaikan. Terima pemberian sudah koneksi berkunjung di website aku. supaya artikel yang kami bahas diatas memangkalkan manfaat untuk pembaca dengan melimpah fisik nan mutakadim wasilah berkunjung di website ini. beta berpretensi dorongan sejak semua partai cak bagi pelebaran website ini biar lebih baik lagi. Abstrak Penelitian ini dilakukan berdasarkan pada keadaan pariwisata di Pulau Karampuang dan pengembangan yang telah dilakukan. Isu kelestarian alam mendorong penulis untuk mengkaji tentang pengembangan produk wisata Karampuang dengan berpedoman pada prinsip-prinsip ekowisata bahari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sejauh manakah prinsip ekowisata bahari diterapkan dalam usaha maupun program pengembangan produk wisata Karampuang yang meliputi aksesibilitas, atraksi wisata, dan fasilitas wisata. Selanjutnya, diharapkan aspek-aspek pengembangan yang belum menerapkan prinsip ekowisata bahari dapat menjadi fokus perhatian untuk program pengembangannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskripsitf kualitatif yang berusaha untuk memaparkan keadaan pariwisata di Karampuang secara apa adanya. Pengambilan data dilakukan dengan observasi partisipasi, wawancara, studi pustaka, dan studi dokumen terkait. Data dianalisis dengan secara langsung dengan tahapan a reduction, b serving, dan c verification. Setelah melalui tahapan tersebut, data kemudian diinterpretasikan untuk mendapatkan kesimpulan akhir. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa secara garis besar, usaha dan program pengembangan prouk wisata Karampuang telah menggunakan prinsip ekowisata bahari sebagai acuannya demi menjaga kelestarian alam yang pada akhirnya akan mewujudkan sustainable tourism. Namun demikian, terdapat beberapa aspek yang masih dapat ditingkatkan dalam hal penerapan prinsip ekowisata bahari dalam pengembangan atau pengelolaan wisata di Pulau Karampuang. Sementara itu, penelitian ini memiliki implikasi praktis untuk pengelola wisata Karampuang sebagai dasar untuk pengembangan produk wisata dengan berpedoman pada prinsip ekowisata bahari demi terwujudnya sustainable tourism di masa depan. AbstractThis research was conducted based on the state of tourism in Karampuang Island and the developments that have been carried out. The issue of nature preservation encourages the author to study the development of Karampuang tourism products based on the principles of marine ecotourism. The purpose of this study is to identify the extent to which the principles of marine ecotourism are applied in the business and development program of Karampuang tourism products which include accessibility, tourist attractions and tourist facilities. Furthermore, it is hoped that development aspects that have not applied the principles of marine ecotourism can become the focus of attention for their development programs. This research is a qualitative descriptive study that seeks to describe the state of tourism in Karampuang as it is. Data were collected by participatory observation, interviews, literature study, and related document studies. Data were analyzed directly with the stages a reduction, b serving, and c verification. After going through these stages, the data is then interpreted to get a final conclusion. The results of this study indicate that broadly speaking, the Karampuang tourism product development program and business have used the principle of marine ecotourism as a reference in order to preserve nature which will ultimately create sustainable tourism. However, there are several aspects that can be improved in terms of the application of the principles of marine ecotourism in the development or management of tourism in Karampuang Island. Meanwhile, this research has practical implications for Karampuang tourism managers as a basis for developing tourism products based on the principles of marine ecotourism for the realization of sustainable tourism in the future. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Volume 12, Nomor 2, 2020 ISSN Cetak 1411-9862 Jurnal Nasional Pariwisata [126-139] Sotya Sasongko*; Janianton Damanik; Henry Brahmantya Pu sat S tud i Pariw isata, Universitas Gadjah M ada * corres po nding a uthor ko kopus pa r c. id Prinsip Ekowisata Bahari dalam Pengembangan Produk Wisata Karampuang untuk Mencapai Pariwisata Berkelanjutan AbstrakPenelitian ini dilakukan berdasarkan pada keadaan pariwisata di Pulau Karampuang dan pengembangan yang telah dilakukan. Isu kelestarian alam mendorong penulis untuk mengkaji tentang pengembangan produk wisata Karampuang dengan berpedoman pada prinsip-prinsip ekowisata bahari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sejauh manakah prinsip ekowisata bahari diterapkan dalam usaha maupun program pengembangan produk wisata Karampuang yang meliputi aksesibilitas, atraksi wisata, dan fasilitas wisata. Selanjutnya, diharapkan aspek-aspek pengembangan yang belum menerapkan prinsip ekowisata bahari dapat menjadi fokus perhatian untuk program pengembangannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskripsitf kualitatif yang berusaha untuk memaparkan keadaan pariwisata di Karampuang secara apa adanya. Pengambilan data dilakukan dengan observasi partisipasi, wawancara, studi pustaka, dan studi dokumen terkait. Data dianalisis dengan secara langsung dengan tahapan a reduction, b serving, dan c verification. Setelah melalui tahapan tersebut, data kemudian diinterpretasikan untuk mendapatkan kesimpulan akhir. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa secara garis besar, usaha dan program pengembangan prouk wisata Karampuang telah menggunakan prinsip ekowisata bahari sebagai acuannya demi menjaga kelestarian alam yang pada akhirnya akan mewujudkan sustainable tourism. Namun demikian, terdapat beberapa aspek yang masih dapat ditingkatkan dalam hal penerapan prinsip ekowisata bahari dalam pengembangan atau pengelolaan wisata di Pulau Karampuang. Sementara itu, penelitian ini memiliki implikasi praktis untuk pengelola wisata Karampuang sebagai dasar untuk pengembangan produk wisata dengan berpedoman pada prinsip ekowisata bahari demi terwujudnya sustainable tourism di masa depan. Kata kunci pengembangan wisata; produk wisata; ekowisata bahari; Pulau Karampuang; sustainable tourism Abstract This research was conducted based on the state of tourism in Karampuang Island and the developments that have been carried out. The issue of nature preservation encourages the author to study the development of Karampuang tourism products based on the principles of marine ecotourism. The purpose of this study is to identify the extent to which the principles of marine ecotourism are applied in the business and development program of Karampuang tourism products which include accessibility, tourist attractions and tourist facilities. Furthermore, it is hoped that development aspects that have not applied the principles of marine ecotourism can become the focus of attention for their development programs. This research is a qualitative descriptive study that seeks to describe the state of tourism in Karampuang as it is. Data were collected by participatory observation, interviews, literature study, and related document studies. Data were analyzed directly with the stages a reduction, b serving, and c verification. After going through these stages, the data is then interpreted to get a final conclusion. The results of this study indicate that broadly speaking, the Karampuang tourism product development program and business have used the principle of marine ecotourism as a reference in order to preserve nature which will ultimately create sustainable tourism. However, there are several aspects that can be improved in terms of the application of the principles of marine ecotourism in the development or management of tourism in Karampuang Island. Meanwhile, this research has practical implications for Karampuang tourism managers as a basis for developing tourism products based on the principles of marine ecotourism for the realization of sustainable tourism in the future. Key words tourism development; tourism products; marine ecotourism; Karampuang Island; sustainable tourism Prinsip Ekowisata Bahari dalam Pengembangan Produk Wisata Karampuang untuk Mencapai Pariwisata Berkelanjutan Volume 12, Nomor 2, September 2020 PENDAHULUAN Keadaan alam Indonesia sangat didominsai oleh gugusan pulau-pulau. Tidak hanya pulau-pulau besar seperti Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua, deretan pulau-pulau kecil di antara pulau-pulau besar tersebut juga menjadi kekayaan alam Indonesia. Keadaan geografis tersebut menyebabkan Indonesia memiliki ciri khas sangat kental terkait kabaharian, khususnya dalam bidang pariwisata yang menawarkan berbagai atraksi wisata bahari yang menakjubkan. Dalam buku Pedoman Ekowisata Bahari dijelaskan bahwa Indonesia sebagai negara kepualauan dengan posisi geografis yang dikelilingi oleh Samudera Hindia dan Samudera Pasifik memiliki unggulan potensi atraksi alam ciri khas kebaharian. Yulius et al., 2018. Pendapat lain mengutarakan bahwa sumber daya ekowisata bahari merupakan potensi alam yang terkait dengan kelautan atau kebaharian yang dapat dieksplorasi dan dikelola untuk pengembangan produk pariwisata bahari tersebut. Zona ekowisata bahari terbagi ke dalam tiga area yaitu daratan atau pantai, laut perairan sekitar pantai dan lepas, dan dasar laut Dwi Mukti Wibowo, 2020. Salah satu pulau yang memiliki potensi tersebut adalah Pulau Karampuang yang terletak di Provinsi Sulawesi Barat dianugerahi dengan berbagai daya tarik wisata alam dan budaya yang indah. Ironisnya, kunjungan pariwisata relatif rendah. Pada tahun 2017 tercatat kunjungan domestik pariwisata Sulawesi Barat sebanyak dan 723 untuk kunjungan mancanegara Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat, 2018. Padahal, provinsi ini telah sebetulnya mempunyai Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, 2018. Produk pariwisata memiliki perbedaan dari berbagai produk dan jasa di bidang lainnya. Pemahaman tentang produk pariwisata melibatkan komponen yang lebih kompleks karena tidak terbatas pada suatu produk itu sendiri, namun juga bagaimana wisatawan dapat mengaksesnya dan mendapatkannya. Middleton, 2001 memberikan pengertian produk wisata secara komprehensif bahwa “the tourist products to be considered as an amalgam of three main components of attraction, facilities at the destination and accessibility of the destination”. Secara rinci, elemen dasar dari suatu produk wisata adalah atraksi, fasilitas, dan akses wisata. Selanjutnya, Suswantoro, 2007 mengutarakan bahwa produk pariwisata merupakan segala sesuatu yang dirasa dan diperoleh oleh wisatawan mulai saat meninggalkan tempat tinggal sampai ke destinasi wisata hingga kembali ke tempat tinggal. Unsur produk pariwisata yang dikemukakan oleh Yoeti, 2002 adalah daya tarik atau atraksi wisata, fasilitas, dan akses wisata yang ditawarkan. Produk pariwisata terbagi menjadi produk yang memiliki fisik tangible dan produk yang tidak memiliki wujud fisik -jasa- intangible. Burns & Holden, 1995 menyatakan bahwa produk wisata sebagai sesuatu yang dapat dikoersialkan dan diciptakan dengan mengintegrasikan berbagai komponen faktor produksi, ketertarikan konsumen terhadap destinasi wisata, dan berbagai kebudayaan lokal serta festivalnya. Menurut Kotler & Armstrong, 1989 produk wisata adalah semua hal yang ditawarkan kepada pasar wisata atau konsumen untuk mendapatkan kepuasan atas keinginan di dalam objek fisik, layanan, SDM yang terlibat di dalam suatu wadah dan inovasi-inovasi baru. Setelah mengetahui dan memahami berbagai pemikiran mengenai produk pariwisata dari berbagai ahli di atas, serta menyimpulkan garis besar dari pemahaman dan elemen produk pariwisata, selanjutnya akan diuraiakan gambaran mengenai produk pariwisata di Pulau Karampuang yang dalam penelitian ini dibatasi dalam tiga elemen yakni atraksi wisata, aksesibilitas, dan fasilitas. Tabel 1. Jenis Produk Pariwisata Berdasarkan Hasil Obesrvasi ▪ Daya tarik / atraksi wisata ▪ Aksesibilitas menuju dan di dalam objek ▪ Sarana prasarana wisata Sumber Data Penelitian, 2019 Jurnal Nasional Pariwisata Sotya Sasongko et al. a. Aksesibilitas Pulau Karampuang berjarak 3 km dari Kota Mamuju, Sulawesi Barat dan diakses menggunakan perahu motor yang tersedia di area Tempat Pelelangan Ikan TPI Kasawi di Mamuju, selama sekitar 30 menit. Kondisi perairan yang relatif tenang, wisatawan akan dimanjakan oleh pemandangan lepas yang menawan dan disuguhi kesyahduan matahari terbit dan terbenam yang begitu hikmat. Selain untuk transportasi wisata, perahu motor ini juga merupakan kendaraan rutin penduduk Karampuang menuju ke Mamuju untuk bekerja ataupun sekolah. Pulau Karampuang memiliki dua dermaga yang akan menyambut wisatawan yakni dermaga 1 yang terletak di pemukiman penduduk, dan dermaga 2 di Ujung Bulo. b. Atraksi Wisata Secara garis besar, produk wisata yang dimiliki pulau Karampuang merupakan atraksi wisata bahari. Namun demikian, ada beberapa alternatif atraksi wisata darat yang ditawarkan meskipun masih dalam area yang dekat dengan pantai atau laut. Berbagai atraksi wisata tersebut terbagi menjadi beberapa jenis yakni snorkeling, diving, pesisir pantai, sunset view, jelajah hutan lindung, goa, dan sumber air sumur legendaris. Snorkeling dan diving merupakan primadona di kawasan tersebut dengan sajian keindahan aneka terumbu karang dari soft hingga hard coral. Tidak perlu penyelaman yang terlalu dalam, wisatawan akan dimanjakan dengan keindahan dunia bawah laut hanya dengan kedalaman dua hingga empat meter. c. Fasilitas Wisata Tidak dapat dipungkiri jika fasilitas pendukung wisata di Ujung Bulo masih terbatas. Keberadaan dermaga, gazebo, jalan setapak, warung makan, dan lapak souvenir masih terkesan seadanya. Meski begitu, pasokan listrik telah masuk ke Pulau Karampuang yang bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya Solar Cell. Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari penelitian-penelitian sebelumnya yang berusaha untuk mengkaji pengembangan produk wisata dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip ekowisata bahari untuk mencapai sustainable tourism. Konsep ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan pada stakeholders dalam rangka pengembangan pariwisata yang lebih fokus dan terarah. Sehingga pada akhirnya dapat terwujud pariwisata berkelanjutan sustainable tourism yang dapat menjadi penggerak perekonomian Karampuang. Secara detail, penelitian ini bertujuan untuk 1. Mengidentifikasi jenis-jenis produk wisata Pulau Karampuang. 2. Menganalisis implementasi konsep ekowisata bahari dalam pengembangan produk wisata. 3. Menganalisis keterkaitan konsep ekowisata bahari dengan sustainable tourism. Pada akhirnya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan implikasi secara nyata kepada pemerintah daerah untuk menyusun rancangan pembangunan dan pengembangan produk wisata Karampuang yang tidak merusak ekosistem. Misalnya adalah layout dan konstruksi kios-kios kuliner dan souvenir supaya tidak merusak konstruksi tanah di sekitar pantai yang dapat menyebabkan abrasi. Selain ini, penelitian ini diharapkan akan memberikan kesadaran bagi warga masyarakat Karampuang agar lebih peduli terhadap lingkungan alam sekitar dalam pengelolaan pariwisata. TINJAUAN PUSTAKA Akhir-akhir ini, pariwisata tidak lagi sekedar memiliki tujuan rekreatif. Lebih dari itu, saat ini pariwisata juga memiliki tujuan edukasi dan bahkan pelestarian alam. Konsep tersebut saat ini lebih populer dengan istilah ekowisata. Ekowisata merupakan suatu konsep tentang mencapai keinginan dan kepuasan akan alam, tentang eksploitasi wisata alam untuk kepentingan konservasi dan pengembangan, dan tentang mencegah dampak negatif dari kegiatan pariwisata tersebut terhadap alam Lindberg & Hawkins, 1995. Pemikiran lain tentang ekowisata adalah suatu kegiatan pariwisata di daerah yang masih alami harus mengintegrasikan seluruh elemen seperti pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat, serta harus memberikan dampak positif tidak hanya untuk pelaku pariwisata namun juga untuk lingkungan alam dalam bentuk Prinsip Ekowisata Bahari dalam Pengembangan Produk Wisata Karampuang untuk Mencapai Pariwisata Berkelanjutan Volume 12, Nomor 2, September 2020 usaha-usaha pelestarian alam atau daerah wisata tersebut. Fandeli & Mukhlison, 2000 Sesuai dengan keadaan wilayah Pulau Karampuang dan produk-produk wisatanya, ekowisata yang dimaksud dalam penelitian ini adalan ekowisata bahari sebagaimana Sebagian besar produk wisatanya adalah wisata laut dan pantai. Menurut Pemerintah Republik Indonesia, 2009 dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, wisata bahari merupakan berbagai upaya untuk menggelar kegiatan pariwisata dan olah raga air yang meliputi penyediaan berbagai fasilitas dan jasa lainnya yang secara profesional dikelola untuk tujuan komersial di daerah pesisir pantai, perairan laut, danau, sungai, dan waduk. Ahli lain juga berpendapat bahwa ekowisata bahari termasuk ke dalam jenis wisata minat khusus terhadap kegiatan wisata lkelautan baik dilakukan di permukaan maupun di dasar laut. Samiyono & Trismadi, 2001. Zona ekowisata bahari terbagi menjadi tiga yakni permukaan laut, bawah laut, maupun di pesisir laut yang menawarkan berbagai atraksi wisata air atau kelautan dalam kemasan eco-tourism. Beberapa atraksi wisata bahari yang dapat dinikmati oleh wisatawan adalah taman laut, Kawasan hutan mangrove, flora dan fauna laut, terumbu karang, dan pantai Yulius et al., 2018. Seperti telah dijelaskan sebelumnya mengenai produk wisata Pulau Karampuang yang sangat kental dengan kelautan, dalam tulisan ini, ekowisata yang dimaksud cenderung kepada ekowisata bahari. Lebih dalam lagi, ekowisata bahari merupakan kegiatan pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir yang tetap memperhatikan kelestarian dan keseimbangan alam yang menjadi daya tarik wisata tersebut. Wisata bahari berpotensi untuk menurunkan kualitas dan keseimbangan alam, oleh karena itu sangat diperlukan usaha-usaha untuk menjaga kelestarian alam khususnya di daerah wisata bahari tersebut agar kegiatan pariwisata dapat terus berlanjut sustainable tourism. Ketjulan, 2010. Di sisi lain, dilihat dari aspek konservasi, ekowisata bahari justru bentuk pelestarian sumberdaya laut dan pantai. Ini karena prinsip ekowisata berdasar pada pencegahan rusaknya ekosistem laut akibat dampak negatif kegiatan pariwisata. Sehingga ketika alam yang rusak telah berhasil dikonservasi, maka fungsinya sebagai penyangga kehidupan akan kembali dan bahkan akan mendatangkan manfaat secara ekonomi melalui kegiatan pariwisata dan perikanan yang lebih produktif. Penelitian ini secara garis besar bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh prinsip atau konsep ekowisata bahari telah diterapkan dalam pengembangan produk pariwisata di Pulau Karampuang guna mencapai tujuan sustainable tourism. Konsep pariwisata berkelanjutan menjadi sangat populer belakangan ini. Ini juga menyebabkan bertambahnya jumlah investasi pariwisata yang seharusnya memberikan dampak positif bagi semua pihak asalkan para pelaku wisata dapat dan mau menjaga dan menyatu dengan alam. Oleh sebab itu, dalam penelitiannya, Arida, menyampaikan bahwa beberapa sektor publik bertekad untuk menjadikan konsep sustainable tourism sebagai prioritas agar dapat menjaga dan melestarikan sumber – sumber pariwisata alam demi kepentingan di masa depan juga. Pengembangan pariwisata ataupun produk pariwisata yang didasarkan pada konsep atau prisnsip ekowisata memang menawarkan hasil yang ideal dan seimbang baik bagi manusia sebagai pelaku wisata maupun bagi alam sebagai objek wisata. Penerapan prinsip ekowisata dalam pengembangan pariwisata akan memberikan batasan-batasan perilaku bagi manusia sebagai pelaku wisata tanpa harus mengurangi aspek kepuasan wisata. Ini dimaksudkan supaya alam dapat bertahan dan tetap lestari, sehingga pariwisata dapat berlangsung selama mungkin dengan tidak membawa kerusakan bagi alam. Sebuah riset sebelumnya menyatakan bahwa terdapat peluang dalam pengembangan produk ekowisata bahari. Selain itu, dalam pengembangan wisata bahari tersebut, harus diperhatikan penerapan prinsip-prinsip ekowisata bahari. Yang juga harus diperhatikan adalah Jurnal Nasional Pariwisata Sotya Sasongko et al. bahwa peluang pengembangan produk pariwisata yang meliputi produk dan fasilitas wisata baru tidak akan memberikan dampak negatif atau merusak produk yang telah ada sebelumnya, maupun kegiatan pariwisata secara keseluruhan. Nazhima & Arida, 2019. Peneliti lain menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh warga masyarakat Pantai Bangsring dalam mengelola pariwisata merupakan salah satu usaha untuk memelihara ekosistem terumbu karang di Pantai Bangsring sehingga pengunjung Pantai Bangsring tidak hanya snorkeling di Pantai Bangsring namun pengunjung juga dapat melakukan aktivitas yang lain Budiman et al., 2017. Selain itu, dalam pengembangan daerah wisata di Pantai Malalayang, strategi utama yang dilaksanakan adalah dengan cara menjaga kelestarian sumber daya laut, keberagaman biota laut di Pantai Malalayang, menata sarana dan prasarana wisata, dan mengembangkan potensi kuliner lokal Razak et al., 2017. METODE PENELITIAN 1. Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang diterapkan dalam kegiatan ini adalah rapid assesment berbasis pada observasi, Focus Group Discussion FGD, dan pengumpulan data sekunder. Metode pengumpulan data dilakukan berdasarkan jenis data yang dibutuhkan, yaitu data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan melakukan observasi, wawancara, penyebaran kuesioner, dan FGD. Sementara data sekunder diperoleh dengan menelaah berbagai sumber seperti jurnal, buku, undang-undang, dan dokumen kebijakan kepariwisataan baik di tingkat daerah maupun nasional. 2. Analisis Data Penelitian ini dilaksanakan dengan metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menggambarkan objek penelitian secara faktual sesuai dengan keadaan yang ada Nawawi & Martini, 1996. Penelitian deskriptif kualitatif merupakan upaya untuk menyajikan serangkaian fenomena secara apa adanya ketika penelitian dilaksanakan Muchtar, 2013. Selanjutnya, juga mengacu pada Muchtar, 2013, analisis data dilakukan secara langsung melalui tahapan 1 reduction yakni penulis memilah data yang diperlukan yang dalam hal ini merupakan pengembangan produk pariwisata Karampuang yang dilihat dengan prinsip ekowisata bahari, 2 serving yakni penulis menampilkan data yang telah dipilah, dan 3 verification yakni penulis menyimpulkan hasil analisis pengembangan produk pariwisata Karampuang dilihat dengan prinsip ekowisata bahari. Pada akhirnya akan didapatkan seberapa jauh pengembangan produk pariwisata di Karampuang yang telah mempertimbangkan prinsip-prinsip ekowisata bahari. 3. Kerangka Berpikir HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Produk Wisata Karampuang Kawasan Pulau Karampuang memiliki konfigurasi landscape yang unik dan menawan, dengan dilingkupi bukit-bukit berupa cliff yang tertutup rindangnya pepohonan. Beberapa gugusan pantainya dihampari pasir putih bersih. Keindahan bawah laut terterawang dengan jelas karena kejernihan airnya. Zonasi diperlukan untuk menjaga kelestarian, keindahaan, dan kebersihan pantai. Penentuan zonasi ini didasarkan pada konsep landscape asessment. Zonasi dikelompokkan menjadi dua, yaitu perlindungan dan pemanfaatan. Zona perlindungan dalam konsep adalah untuk menjaga proses alamiah meskipun terdapat aktivitas pariwisata di sekitarnya. Sementara zona pemanfaatan ditujukan untuk menjaga ekosistem dan sosiosistem masyarakat lokal di Kawasan Pulau Karampuang. 1 Persiapan ▪Review data sekunder ▪Desain/metodologi ▪Penyiapan instrumen Pengambilan Data ▪Observasi ▪FGD ▪Wawancara 3 Analisis Data tentang Penerapan Konsep Ekowisata Bahari Karampuang dengan penerapan prinsip ekowisata bahari dalam pengembangan produk pariwisata Karampuang Prinsip Ekowisata Bahari dalam Pengembangan Produk Wisata Karampuang untuk Mencapai Pariwisata Berkelanjutan Volume 12, Nomor 2, September 2020 a. Snorkeling dan Diving Suguhan daya tarik wisata di Pulau Karampuang memang tidak terbantahkan keindahannya. Snorkeling dan diving merupakan primadona di kawasan tersebut. Atraksi ini menawarkan kemurnian dan keindahan terumbu karang baik jenis soft coral maupun hard coral. Wisatawan dapat dengan mudah melakukan snorkeling di sekitar dermaga Ujung Bulo dan lokasi-lokasi lain di kawasan Pulau Karampuang. Tidak perlu penyelaman yang terlalu dalam, wisatawan sudah dimanjakan dengan keindahan dunia bawah laut hanya dengan kedalaman dua hingga empat meter. Salah satu lokasi diving yang paling favorit adalah Wall Site yang yang menyimpan gugsan terumbu karang yang membentuk dinding besar. Spot ini memberikan sensasi pengalaman diving yang spesial karena keragaman biota lautnya yang masih terjaga merupakan surga dunia bawah laut yang tidak akan menjemukan. b. Pesisir Pantai Gugusan pantai di Karampuang dikenal dengan kebersihan dan suasana damainya saat bersantai. Dihampari dengan pasir putih yang masih bersih, pantai-pantai di Karampuang tidak pernah gagal untuk mewujudkan fungsi rekreatifnya bagi para wisatawan yang menikmatinya. c. Sunset View Suasana damai dan syahdu akan semakin terasa ketika momen matahari tenggelam di waktu petang tiba saat wisatawan sedang bersantai dan bercengekerama di gugusan pantai Karampuang. Perpaduan antara hamparan pasir putih, deru ombak, hutan bakau, dan semburat matahari tenggelam sunset merupakan atraksi wisata yang menakjubkan yang tidak boleh dilewatkan di Karampuang. d. Gua Lidah Selain dunia bawah laut, Pulau Karampuang masih menyimpan atraksi wisata lainnya yaitu wisata Gua Lidah yang terdapat di daratan sekitar pantai. Bagi wisatawan yang suka memacu adrenalin, Gua Lidah memiliki anak tangga sebagai akses untuk menuju ke bagian dalam goa. Sekilas, goa ini seperti kecil, namun di dalamnya tersembunyi area yang luas dengan dinding kokoh setelah berhasil menyusuri anak tangga tersebut. e. Hutan Kelelawar Salah satu yang ditawarkan oleh Hutan Kelelawar ini adalah wisata petualangan. Di dalam hutan tersebut, terdapat beberapa atraksi wisata seperti selfie point dan bird watching. Di dalam hutan tersebut telah terdapat jalur pejalan kaki yang memudahkan wisatawan untuk berpetualang di dalam hutan. f. Sumur Tiga Rasa Bagi wisatawan yang menyukai mitologi, Pulau Karampuang juga memiliki daya tarik wisata mitologi berupa sumur tiga rasa atau lebih populer dengan nama Sumur Jodoh. Terletak di bagian selatan Karampuang, sumur ini diyakini dapat mendatangkan jodoh bagi siapa saja yang meminum air dari sumur tersebut. Air di dalam sumur ini mengandung tiga rasa berbeda yaitu tawar, asin, dan disertai rasa air payau. 2. Pengembangan Produk dengan Prinsip Ekowisata Bahari Terkait prinsip ekowisata bahari, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, 2018 melalui Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi Ripparprov merumuskan Visi Pembangunan Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat yaitu “Mewujudkan Provinsi Sulawesi Barat Sebagai Destinasi Wisata Nasional Berkelas Dunia, Berkelanjutan, Berbasis pada Kearifan Lokal, Yang Mendorong Pembangunan Daerah, Kesejahteraan Masyarakat dan Malaqbi”. Sedangkan Misinya adalah 1 Memanfaatkan secara lestari sumber daya alam, budaya dan buatan sebagai objek potensial pembangunan pariwisata dengan melibatkan peran aktif masyarakat lokal di Sulawesi Barat. 2 Meningkatkan daya saing pariwisata Provinsi Sulawesi Barat baik pada tingkat nasional maupun global sehingga mampu meningkatkan jumlah kunjungan. 3 Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia SDM, kelembagaan dan infrastrktur serta sarana dan prasarana pariwisata. 4 Menjadikan pariwisata sebagai wahana pemberdayaan masyarakat, meningkatkan Jurnal Nasional Pariwisata Sotya Sasongko et al. kreativitas, penciptaan dan pemerataan kesempatan kerja dan berusaha. 5 Mempromosikan potensi pariwisata Provinsi Sulawesi Barat dengan menjalin kerjasama dengan daerah lain baik dalam negeri maupun luar negeri. 6 Mengembangkan daerah tujuan wisata di Sulawesi Barat yang aman, nyaman, menarik, mudah dicapai dan berwawasan lingkungan sehingga mampu meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat. 7 Mengembangkan pemasaran pariwisata yang sinergis, unggul, dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara ke Sulawesi Barat. 8 Mengembangkan industri pariwisata di Sulawesi Barat yang berdaya saing, kredibel, mampu menggerakan kemitraan usaha, bertanggung jawab atas kelestarian dan keseimbangan lingkungan alam dan dan sosial budaya. 9 Mengembangkan organisasi pemerintah daerah, swasta dan masyarakat di Sulawesi Barat, mengembangkan sumber daya manusia, regulasi dan mekanisme operasional yang efektif dan efisien dalam rangka mendorong terwujudnya kepariwisataan yang berkelanjutan. 10 Mendorong kemajuan daerah secara merata melalui optimalisasi pengelolaan dan pemanfaatan potensi wisata serta pengembangan kerjasama antar daerah dan kemitraan antar pelaku dalam pengelolaan pariwisata. Berdasarkan berbagai penjelasan mengenai konsep dan prinsip ekowisata di bagian pendahuluan sebelumnya, setidaknya terdapat tiga butir yang secara langsung merujuk pada prinsip atau konsep ekowisata, yakni butir 1 memanfaatkan secara lestari sumber daya alam, 6 berwawasan lingkungan, dan 8 bertanggung jawab atas kelestarian dan keseimbangan lingkungan alam. Konsep pengembangan ekowisata bahari didasari oleh latar belakang demografis kelautan yang dimiliki oleh Pulau Karampuang. Pantai, laut, wisata bawah air terumbu karang dan biota laut, Kawasan mangrove, ekosistem kelelawar, dan gua lidah merupakan sumber daya wisata alam yang dapat disinergikan menjadi kesatuan atraksi wisata yang menawarkan topografi pantai sebagai wisata bahari serta keindahan pantai sebagai wisata rekreatif. Dengan adanya daya tarik wisata terumbu karang, misi pariwisata berkelanjutan sangat penting untuk diserukan. Kegiatan konservasi bawah laut yang dikemas sebagai wisata edukasi dapat dipilih sebagai salah satu alternatif. Paket transplantasi terumbu karang untuk penyelamatan kelestarian terumbu karang sangat prospektif untuk diterapkan. Selain berkelanjutan wisata ini juga harus menyuarakan berbagai kegiatan positif peduli lingkungan. Ini akan memperkuat branding Pulau Karampuang. Selain itu, pengembangan produk wisata di Karampuang juga sebaiknya dilakukan dengan konsep wisata minat khusus supaya tidak terjadi wisata massal dengan jumlah wisatawan yang berlebih demi keberlangsungan ekosistem sekitar. Wisatawan mengunjungi suatu tempat karena memiliki minat tertentu dari objek atau kegiatan di daerah tujuan wisata tertentu. Tujuan wisata khusus ini harus direncanakan dan dikembangkan secara khusus Weiler & Hall, 1992. Dalam suatu daerah tujuan wisata terutama daerah pesisir pantai seperti di Pulau Karampuang setidaknya ada beberapa aktivitas yang dilakukan yaitu aktivitas wisata, aktivitas perikanan tangkap dan aktivitas penduduk nelayan atau penduduk yang bermukim di sekitar pesisir pantai. Agar konsep ekowisata bahari dan sustainable tourism dapat disosialisasikan dan diiimplementasikan dengan baik, maka penduduk yang menghuni wilayah tersebut dan melakukan aktivitas mereka di Pulau Karampuang harus senantiasa diperhatikan dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan dan pengembangan pariwisata. Salah satu upaya tersebut adalah dengan penerapan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau CBT Community-Based Tourism. Dengan konsep CBT, kesadaran mereka akan pariwisata akan terbentuk dan bahkan akan menjadi tata cara hidup bagi masyarakat lokal local way of life. Sehingga ketika warga telah memahami dan menyadari bahwa pariwisata merupakan bagian dari kehidupan mereka, maka mereka akan Prinsip Ekowisata Bahari dalam Pengembangan Produk Wisata Karampuang untuk Mencapai Pariwisata Berkelanjutan Volume 12, Nomor 2, September 2020 dengan senang hati mengelola pariwisata dan pada akhirnya tujuan sustainable tourism akan tercapai. Akan tetapi, konsep ekowisata bahari juga menyimpan kekhawatiran ketika konsep tersebut hanya dijadikan label semata untuk kampanye atau promosi pariwisata demi keuntungan atau profit yang besar semata tanpa mempedulikan keadaan alam. Selain itu, kekhawatiran lain muncul jika pada praktiknya, konsep tersebut disalahartikan sebagai “wisata bahari”. Kedua konsep tersebut tentu sangat berbeda. Wisata bahari adalah berbagai kegiatan wisata yang memanfaatkan sumber daya kelautan seperti diving, snorkeling, memancing, dan sebagainya Ketjulan, 2010. a. Pengembangan akses dalam kawasan wisata Konfigurasi kawasan Pulau Karampuang sebagian merupakan dataran dan sebagian perbukitan. Area yang berupa dataran berada di Kawasan pinggiran pulau yang dijadikan sebagai area pemukiman penduduk di kawasan Desa Karampuang 1 dan desa Ujung Bulo. Sementara kawasan perbukitan terdapat di sebagian sisi pulau dan di tengah pulau. Berdasarkan kondisi geomorfologi ini ditetapkan zona lindung di perbukitan. Kawasan lindung ini dikelola secara konservasi. Zona ini boleh dimanfaatkan secara sangat terbatas. Untuk akses ke tempat ini tidak dibangun jalan beraspal tetapi jalur trekking conblock/paving dan sebagian jalan tanah/pasir. Di kiri kanan jalan setapak ini dibuat drop structure yang dilengkapi dengan bangunan peresapan air hujan. Untuk menghubungkan antar zona yang dipisahkan oleh pantai dan hutan dibuat dermaga khusus kapal wisata. Kapal wisata ini digunakan untuk mengangkut wisatawan yang ingin melakukan kegiatan selam Diving dan Snorkeling. Antar zona dapat dihubungkan jalan perdesaan. Pengembangan akses ini dapat dilakukan tetapi diharapkan untuk tidak merugikan zona lindung dan zona lainnya. Zona perlindungan perairan laut dan sempadan pantai mempunyai keterbatasan, sehingga diharapkan nantinya di dalam pengembangan akses tidak ada bangunan yang didirikan. Kemudian antar zona yang berada di area semakin kearah daratan maka akses lebih banyak pilihan. Tetapi arah jalan harus tegak lurus pada garis pantai. Hal ini dimaksudkan agar kerusakan tidak terjadi sepanjang garis pantai. Konstruksi jalan sebaiknya menggunakan conblock paving blok. Adanya conblock dimungkinkan air bisa masuk meresap ke dalam tanah. Syarat untuk pembuatan jalan dibangun tegak lurus dengan garis pantai. Apabila ingin membuat jalan memanjang sepanjang garis pantai hanya boleh dilakukan pada batas terluar zona yang ada di kawasan yang datar. Pada setiap jalan yang dibuat, ditepinya ditanami dengan tanaman perindang. Jalur ini bisa digunakan sebagai jalur trekking sepeda berkeliling Pulau Karampuang. Pengadaan jalur sepeda adalah salah satu rencana pengembangan pariwisata dalam mewadahi mobilitas para pengunjung sehingga pengunjung dapat bekeliling kampung dan pemukiman di Pulau Karampuang sambal menikmati pemandangan sekitar. Ruang publik dan peraturan mengenai ruang publik penting untuk dijadikan acuan. Sementara itu, terkait pengembangan dermaga khusus wisata, perlu desain bangunan dermaga dengan bahan baku yang ramah lingkungan agar kegiatan wisata dapat bukan justru merusak kawasan. Untuk mengidentifikasi dengan lebih detail, tabel 2 berikut ini merupakan penyajian tabel pengembangan produk wisata Karampuang yang berupa akses dan kaitannya dengan prinsip ekowisata bahari. Tabel 2. Pengembangan Produk Akses Kawasan Wisata Karampuang Spesifikasi/ Teknis Pengem-bangan Pertimbang-an Ekosistem dan Lingkungan Pengembangan Jalur Trekking/ jalan kaki menuju Kawasan Pantai Penataan jalur pejalan kaki menuju Kawasan pantai ▪ Jalan setapak dengan paving dan drop structure di samping ▪ Tidak ada bangunan permanen ▪ Penggunaan paving dan drop structure masih memungkinkan untuk peresapan air ke tanah ▪ Supaya keseimbangan ekosistem tetap terpelihara Jurnal Nasional Pariwisata Sotya Sasongko et al. Pengembangan jalur bersepeda Penataan jalur bagi wisatawan yang ingin bersepeda wisata ▪ Jalan setapak dengan paving dan drop structure di samping ▪ Dibuat tegak-lurus terhadap garis pantai ▪ Ditanami tanaman perindang di samping ▪ Penggunaan paving dan drop structure masih memungkinkan untuk peresapan air ke tanah ▪ Tegak lurus untuk meminimalisir abrasi ▪ Tanaman mencegah abrasi Pengembangan dermaga khusus pariwisata di Mamuju Penyusunan DED dermaga wisata, pembangunan dan pengelolaannya ▪ Bahan baku lokal dan ramah lingkungan ▪ Supaya keseimbangan ekosistem tetap terpelihara Sumber Analsis Data Survey dan Observasi Penelitian, 2019 b. Pengembangan atraksi wisata 1 Atraksi yang ada di Zona perlindungan, dilakukan seminimal mungkin pengembangan fasilitas utilitas. Zona ini adalah Sempadan Pantai, Perairan Teluk, Spot Diving dan snorkeling dan di kawasan hutan. Pada Zona hutan dilengkapi dengan gazebo-gazebo pemandangan dan birdwatching, untuk melihat burung dan kelelawar hutan. 2 Atraksi yang ada di Zona pemanfaatan intensif dan ekstensif pengembangan infrastruktur, fasilitas dan utilitas dapat dilakukan secara intensif dengan mempertimbangkan keberlanjutan dan ruang publik. 3 Atraksi yang ada di hutan dan perkampungan dapat dilakukan pembangunan dan penataan jalur trekking sepeda dan area bird watching. 4 Atraksi yang ada di zona diving dan snorkeling dapat dilakukan penataan spot dan penanda untuk area diving dan snorkeling. Secara detail dapat diuraikan pada setiap zona sebagai berikut Pada Zona Pemanfaatan Kawasan Pantai Di beberapa lokasi ada peluang terdapat dataran yang ada lebar, akan tetapi perlu dibuat batas pengaman karena sisi-sisinya merupakan batuan yang sedikit tajam. Pengembangan kawasan dengan gardu pandang dan gazebo sangat diminati pengunjung untuk melihat pemandangan laut. Kemudian zona sempadan pantai dengan hamparan pasir putih dapat dialoksikan untuk kegiatan Mass Tourism. Di zona ini tidak diperbolehkan untuk membangun sarana dan prasarana serta fasilitas konstruktif. Hanya tanaman pohon sebagai shelterbelt dapat ditanam bentuk berderet atau kelompok. Vegetasi semak atau hutan mangrove harus dibiarkan tumbuh sebagai tempat untuk bertelurnya penyu. Selain itu, terdapat area yang memiliki ketinggian sedikit berbeda dengan jalur mangrove track yang berfungsi sebagai area untuk melihat pemandangan laut maupun berfoto sekaligus sebagai tambahan area peristirahatan. Posisi berada pada track yang lebih dekat dengan bibir pantai. Zona Pemanfaatan Dermaga Wisata Di Zona ini dapat dibangun fasilitas dan utilitas yang intensif. Zona ini digunakan sebagai pintu gerbang masuk ke kawasan wisata bawah air Pulau karampuang. Penataan titik berkumpul, rest area, area parkir kapal wisata dapat dibangun di zona ini. Bangunan semi permanen seperti rumah panggung yang dikemas sebagai TIC Pulau Karampuang. Zona pemanfaatan pemukiman dan kawasan hutan Di zona ini dapat dibangun fasilitas dan utilitas pendukung kegiatan wisata di kawasan pantai dan atraksi kawasan Pulau karampuang Gua, Sumur Jodoh, trekking sepeda dan kelelawar hutan. Di Zona ini dapat dibangun fasilitas homestay, gerai-gerai kuliner dan souvenir, bahkan dapat dibuat workshop untuk gerai-gerai tersebut, selain itu dibangun kamar bilas dan toilet umum. Zona pemanfaatan intensif Spot Diving dan Snorkeling Di Zona ini tidak diperbolehkan untuk membangun sarana dan prasarana serta fasilitas yang intensif, yang diperlukan dibuat penanda tempat spot-spot diving dan snorkeling tersebut berada. Selain penanda arah, penanda bahaya, jalur evakuasi dan juga penanda yang berisi info mengenai destinasi tersebut sangat diperlukan. Berapa lama penyelaman yang aman untuk pemula, mahir dan sebagainya penting untuk diketahui pengunjung maupun masyarakat. Selain itu, kegiatan konservasi bawah laut dapat dikemas sebagai wisata edukasi. Paket wisata transplantasi Prinsip Ekowisata Bahari dalam Pengembangan Produk Wisata Karampuang untuk Mencapai Pariwisata Berkelanjutan Volume 12, Nomor 2, September 2020 terumbu karang untuk penyelamatan terumbu karang juga memiliki prospek untuk dilakukan. Selain berkelanjutan wisata ini akan menyuarakan kegiatan positif yang peduli lingkungan dan dapat memperkuat branding Karampuang. Untuk mengidentifikasi dengan lebih detail, tabel 3 berikut ini merupakan penyajian tabel pengembangan produk atraksi wisata Karampuang dan kaitannya dengan prinsip ekowisata bahari. Tabel 3. Pengembangan Produk Atraksi Wisata Karampuang Spesifikasi/ Teknis Pengem-bangan Pertimbangan Ekosistem dan Lingkungan ▪ Penyusunan DED Kawasan Pariwisata ▪ Penataan Entrance Plaza ▪ Penataan Open Stage ▪ Penantaan Gazebo dan tempat duduk ▪ Penataan kios kuliner dan souvenir ▪ Penataan kamar bilas dan toilet umum ▪ Tidak ada bangunan fisik permanen/konstruktif ▪ Penanaman pohon untuk shelterbelt ▪ Pelestarian vegetasi semak untuk tempat bertelur penyu ▪ Entance, Gazebo, tempat duduk, dan fisik lainnya dengan bahan kayu yang ramah lingkungan ▪ Kawasan pesisir tetap alami dan bersih ▪ Penanaman pohon untuk pencegahan abrasi ▪ Menjaga kelestarian penyu laut ▪ Bahan kayu dan bambu ramah lingkungan Penataan Spot Diving dan Snorkeling ▪ Penataan pada spot- spot diving dan snorkeling yang ada di kawasan Pulau Karampuang ▪ Kegiatan konservasi bawah laut ▪ Penanda spot, arah, kedalaman, bahaya, dan jalur evakuasi ▪ Papan informasi mengenai karakter atraksi wisata ▪ Paket wisata transplantasi terumbu karang ▪ Penandaan sebagai pengingat agar wisatawan tidak berperilaku merusak ▪ Transplantasi untuk melestarikan terumbu karang Pengadaan persewaan sepeda ▪ Pembangunan dan pengadaan persewaan sepeda Penataan Kawasan Goa Lidah ▪ Penataan jalur trekking ▪ Penataan Selfie Point ▪ Penataan tempat duduk ▪ Penataan Toilet Umum ▪ Jalan setapak dengan paving dan drop structure di samping ▪ Gazebo, tempat duduk, dan fisik lainnya dengan bahan kayu yang ▪ Penggunaan paving dan drop structure masih memungkinkan untuk peresapan air ke tanah ▪ Bahan kayu dan bambu ramah lingkungan ▪ Penataan jalur trekking ▪ Penataan selfie point ▪ Penataan tempat duduk ▪ Pengadaan sarana bird watching ▪ Jalan setapak dengan paving dan drop structure di sampingnya ▪ Gazebo, tempat duduk, dan fisik lainnya dengan bahan kayu yang ramah lingkungan ▪ Penggunaan paving dan drop structure masih memungkinkan untuk peresapan air ke tanah ▪ Bahan kayu dan bambu ramah lingkungan Pengadaan glass bottom boat Kapal berlantai kaca ▪ Pengadaan glass bottom boat Kapal berlantai kaca ▪ Pemandu Wisata Penataan dan pengembangan atraksi Sumur Tiga Rasa ▪ Penataan jalur trekking ▪ Penataan Selfie Point ▪ Penataan tempat duduk ▪ Pembuatan signed Gazebo ▪ Jalan setapak dengan paving dan drop structure di samping ▪ Gazebo, tempat duduk, dan fisik lainnya dengan bahan kayu yang ramah lingkungan ▪ Penggunaan paving dan drop structure masih memungkinkan untuk peresapan air ke tanah ▪ Bahan kayu dan bambu ramah lingkungan Sumber Analsis Data Survey dan Observasi Penelitian, 2019 c. Pengembangan fasilitas Fasilitas wisata merupakan produk pelengkap bagi daya tarik wisata yang digunakan untuk melayani kebutuhan wisatawan. Fasilitas pariwisata sebagai ujung tombak usaha kepariwisataan dapat diartikan sebagai usaha yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan pelayanan kepada wisatawan pada suatu daya tarik wisata. Fasilitas tersebut antara lain akomodasi, makan dan minum, souvenir, tempat ibadah, tempat bilas, toilet dan sebagainya. Sementara itu, fasilitas pendukung wisata yang ada di Ujung Bulo masih terbatas. Dermaga, gazebo, jalan setapak, warung makan souvenir shop, masih sederhana dan belum terkonsep dengan jelas. Namun demikian, Pulau Karampuang juga telah ditunjang dengan fasilitas aliran listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Melihat kondisi dan tata letak fasilitas yang ada, harus ditambah dan direncanakan Kembali penataannya. Kawasan wisata hendaknya harus aman, nyaman dan tentram, terhindar dari polusi. Fasilitas akomodasi yang direkomendasikan untuk Pulau karampuang Jurnal Nasional Pariwisata Sotya Sasongko et al. adalah homestay. Homestay adalah rumah tinggal yang sebagian kamar beserta fasilitasnya disewakan kepada wisatawan yang berinteraksi dengan tuan rumah dan masyarakat. Ada juga yang mendefinisikan homestay sebagai sebuah bangunan yang dibuat khusus untuk menginap tamu/wisatawan. Maksimal jumlah kamar yang diperbolehkan untuk homestay adalah 5 kamar. Homestay di Karampuang dapat berupa rumah penduduk yang ditata sedemikian rupa untuk menginap tamu, ada juga membuat bangunan tersendiri sesuai dengan regulasi yang berlaku. Syarat homestay antara lain adalah dimiliki oleh anggota masyarakat, memiliki nuansa atau keunikan lokal sesuai budaya setempat, memiliki standar ukuran luas kamar minimal 7,5m2, memiliki ventilasi udara dan jendela. Hotel yang ada di Mamuju dapat melakukan pembinaan kepada masyarakat yang memiliki homestay, supaya dapat berkembang dan sesuai dengan standar wisatawan. Rumah makan, toko souvenir, tempat bilas, toilet dan tempat ibadah perlu untuk dilengkapi dan ditata ulang terutama di kawasan pantai. Investasi dalam skala besar tidak direkomendasikan di Pulau Karampuang. Lebih lanjut lagi, gerbang masuk pada pengembangan zona dermaga akan memberikan kesan pertama tentang area pariwisata kepada para pengunjung sehingga desain harus sedapat mungkin menarik perhatian dan memberi kesan kepada pengunjung. Pengembangan ini dapat pula didukung dengan pengadaan sculpture ikonik di area kedatangan. Material alam seperti kayu dan bambu dapat dimanfaatkan sebagai material utama dalam perancangan gerbang masuk wisata. Untuk mengidentifikasi dengan lebih detail, tabel 4 berikut ini merupakan penyajian tabel pengembangan produk fasilitas pariwisata Karampuang dan kaitannya dengan penerapan prinsip ekowisata bahari. Tabel 4. Pengembangan Produk Fasilitas Wisata Karampuang Spesifikasi/ Teknis Pengem-bangan Pertimbang-an Ekosistem dan Lingkungan Pengembangan Gerbang dan Dermaga di Pulau Karampuang Pmbangunan gerbang masuk kawasan sebagai identitas Kawasan Pulau Karampuang dan dermaga kapal ▪ Pemanfaatan material alam seperti kayu dan bambu ▪ Agar tidak mencemari dan keseimbangan ekosistem tetap terpelihara Pembangunan dan penataan titik kumpul wisatawan ▪ Pembangunan kios penyewaan peralatan diving dan snorkeling Dive Center ▪ Pengadaan peralatan Diving dan Snorkeling ▪ Pembangunan dan penataan kios untuk penyewaan dan penyimpanan peralatan diving dan snorkeling ▪ Pengadaan peralatan diving dan snorkeling ▪ Pembangunan tempat untuk mencari informasi tentang aktivitas berwisata di Pulau Karampuang dan Di Mamuju Pembangunan dan Penataan Kuliner Khas Setempat ▪ Pembangunan dan penataan Kios kuliner ▪ Penataan shelter ▪ Penataan tempat sampah ▪ Pembangunan toilet umum ▪ Meletakkan tempat sampah di sepanjang jalur kios kuliner ▪ Menjaga kebersihan Kawasan kios kuliner Pembangunan dan penataan souvenir khas setempat ▪ Pembangunan dan penataan kios souvenir ▪ Penataan shelter ▪ Penataan tempat sampah ▪ Pembangunan toilet umum ▪ Meletakkan tempat sampah di sepanjang jalur kios souvenir ▪ Menjaga kebersihan Kawasan kios souvenir Pembangunan dan penataan homestay serta Pondok Wisata ▪ Pembangunan dan penataan homestay dan Pondok Wisata ▪ Fasilitas untuk homestay dan Pondok Wisata ▪ Maksimal memiliki 5 kamar ▪ Pembatasan jumlah wisatawan agar tidak terjadi overload kunjungan Sumber Analsis Data Survey dan Observasi Penelitian, 2019 3. Keterkaitan konsep ekowisata bahari dalam mencapai Sustainable Tourism Untuk mencapai sustainable tourism di Karampuang, konsep ekowisata, dalam hal ini ekowisata bahari memiliki signifikansi untuk diterapkan sebagai dasar pengembangan produk pariwisata. Keberadaan konsep atau prinsip ekowisata bahari akan menjadi pedoman utama bagi para pelaku wisata dan seluruh stakeholder Prinsip Ekowisata Bahari dalam Pengembangan Produk Wisata Karampuang untuk Mencapai Pariwisata Berkelanjutan Volume 12, Nomor 2, September 2020 untuk mengembangkan produk pariwisata di Karampuang dengan tetap mengutamakan kelestarian alam. Tujuan akhir pariwisata adalah mendapatkan kepuasan wisatawan yang juga akan berdampak pada kepuasan para pelaku wisata dan seluruh stakeholder terkait. Pengembangan produk pariwisata yang berpedoman pada prinsip ekowisata bahari setidaknya akan memperhatikan dan mengutamakan usaha-usaha untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian alam sebagai atraksi atau objek wisata tersebut. Berpedoman pada prinsip ekowisata bahari, pengembangan pariwisata Karampuang tidak hanya akan berorientasi kepada profit semata. Lebih jauh dari itu, pengembangan pariwisata juga akan mengutamakan keberlangsungan dan kelestarian alam demi terjaganya kualitas pariwisata untuk jangka waktu yang lama. Sebagai contoh, di dalam tabel 2 dituliskan bahwa salah satu program pengembangan produk atraksi diving dan snorkeling adalah dengan menyediakan paket wisata transplantasi terumbu karang. Hal ini bertujuan untuk terus berusaha menjaga kelestarian dan keseimbangan ekosistem bawah laut supaya tidak punah sehingga keberlanjutan pariwisata di Karampuang juga akan terus terjaga. Namun demikian, perlu adanya pemandu selam yang professional supaya dalam melakukan kegiatan wisata bawah laut transplantasi terumbu karang, wisatawan tidak melakukannya dengan sembarangan yang justru dapat membahayakan ekosistem terumbu karang itu sendiri. Ketika produk atraksi wisata tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka tidak hanya kepuasan wisatawan yang didapatkan, melainkan juga keberlangsungan alam yang terjaga sehingga pariwisata akan terus berputar. KESIMPULAN Penulis menyimpulkan yang pertama terkait dengan implementasi prinsip ekowisata dalam program pengembangan produk wisata Karampuang, di mana program dan langkah pengembangan produk pariwisata yang melibatkan berbagai stakeholder harus dilaksanakan dengan mengutamakan keberlangsungan dan kelestarian alam sekitar daerah wisata. Khususnya pengembangan wisata terkait dengan wisata alam bahari. Oleh sebab itu, prinsip ekowisata bahari menjadi sangat penting untuk dijadikan sebagai pedoman dalam pengembangan produk pariwisata. Berikut ini merupakan kesimpulan dari masing-masing pengembangan produk wisata di Karampuang. Akses wisata di Karampuang telah dicoba untuk dikembangkan baik akses menuju Karampuang maupun akses dalam kawasan wisata. Pengembangannya pun juga telah memperhatikan prinsip ekowisata guna mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat kegiatan dan eksplorasi wisata. Hal itu dibuktikan dengan fakta sebagai berikut; ▪ Pembuatan akses jalan setapak dengan paving dan drop structure di sampingnya sebagai media resapan air hujan. ▪ Jalan trekking sepeda dibuat tegak-lurus terhadap garis pantai untuk mencegah abrasi. ▪ Penanaman tanaman perindang di kanan kiri jalur traekking untuk mencegah abrasi air laut. ▪ Menggunakan bahan baku lokal dan ramah lingkungan dalam membuat dermaga mengutamakan bambu dan kayu. Pengembangan produk atraksi wisata di Karampuang telah mempertimbangkan prinsip ekowisata bahari agar kegiatan pariwisata tidak justru membahayakan alam. Hal tersebut dapat dilihat dengan langkah-langkah pengembangan produk wisata sebagai berikut ▪ Tidak membangun sarana fisik permanen atau konstruktif. ▪ Penanaman pohon untuk shelterbelt. ▪ Pelestarian vegetasi semak untuk tempat bertelur penyu. ▪ Pembuatan entance, gazebo, tempat duduk, rest area, dan gardu pandang dengan kayu dan bambu. ▪ Paket wisata transplantasi terumbu karang. ▪ Jalan setapak dan jalur trekking dibuat dengan paving dan drop structure di sekelilingnya. Jurnal Nasional Pariwisata Sotya Sasongko et al. Terkait dengan fasilitas wisata, pegembangan yang dilakukan memang belum begitu memperhatikan prinsip ekowisata secara detail seperti pada pengembangan akses dan atraksi wisata sebelumnya. Akan tetapi, di sisi lain hal ini dapat dipahami karena fasilitas wisata sangat erat kaitannya dengan kenyamanan dan keamanan wisatawan. Memang beberapa Langkah atau program pengembagan telah menggunakan prinsip ekowisata seperti pemanfaatan material alam seperti kayu dan bambu dalam pembangunan dermaga, peletakkan tempat sampah di sepanjang jalur kios kuliner dan souvenir, dan pembatasan jumlah kamar homestay untuk mengendalikan jumlah wisatawan. Kedua, implementasi ekowisata bahari untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di Karampuang. Pengembangan produk pariwisata yang didasarkan pada prinsip ekowisata bahari di Karampuang ini tentu akan memiliki dampak positif bagi semua pihak dan elemen, tidak terkecuali untuk alam sekitar Karampuang. Pengembangan tersebut tentunya akan mengutamakan keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan alam sehingga dampak kerusakan alam akibat kegiatan pariwisata akan dapat dicegah. Keadaan tersebut tentunya akan membuat alam terus lestari dan dapat mengeluarkan pesonanya untuk menarik wisatawan terus datang berkunjung sebagai pengejawantahan dari tercapainya sustainable tourism. Pada akhirnya kepuasan wisata akan juga didapatkan baik dari sisi wisatawan maupun dari sisi penyedia jasa dan pelaku usaha lainnya. Pada akhirnya, penulis ingin menyampaikan bahwa program dan langkah pengembangan produk wisata di Karampuang secara garis besar telah memperhatikan prinsip-prinsip ekowisata bahari demi menjaga lingkungan dan keseimbangan ekosistem agar tercapai pariwisata berkelanjutan sustainable tourism. Namun demikian, dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh penulis, tentu hasil penelitian ini pun juga memiliki kekurangan. Oleh sebab itu, di masa depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian-penelitian selanjutnya terutama untuk pengembangan produk pariwisata, khususnya di Pulau Karampuang. Pada bagian paling akhir dari penelitian ini, atas segala keterbatasan dalam penelitian ini, penulis akan menyampaikan beberapa saran untuk seluruh pihak yang terkait dengan pengembangan produk pariwisata di Karampuang ini. Saran-saran tersebut diharapkan dapat dijadikan dasar untuk pengembangan produk pariwisata khususnya di Karampuang di masa depan. 1 Meskipun segala program dan Langkah pengembangan produk pariwisata telah didasarkan pada prinsip ekowisata bahari untuk menjaga kelestarian lingkungan, namun hal tersebut juga harus disertai dengan perumusan daya dukung lingkungan -alam- agar upaya-upaya tersebut tidak sia-sia. Jumlah kunjungan pariwisata yang berlebih justru akan membahayakan alam sekitar itu sendiri. 2 Meskipun telah banyak menggunakan kayu dan bambu yang ramah lingkungan dalam pembuatan jalur setapak dan trekking, namun secara teknis harus didesain secara detail terutama dikaitkan dengan layout dan kondisi lingkungan sekitar. 3 Desain layout kios kuliner dan souvenir harus dirumuskan secara teknis agar konsturksi sarana fisik tersebut tidak merusak lingkungan. Begitu juga dengan pembangunan TIC dan rest area bagi wisatawan. 4 Perlu adanya regulasi pembatasan wisatawan seperti misalnya ketika bersepeda dengan memasuki kawasan hutan dan pemukiman supaya satwa dan flora hutan tidak terganggu dan terusir serta masyarakat lokal tidak merasa terjajah. Perlu adanya regulasi bagi wisatawan agar tidak berperilaku merusak selama melakukan kegiatan pariwisata, misalnya adalah larangan menangkap satwa, mengambil berbagai jenis flora, dan mengotori area wisata Karampuang. DAFTAR PUSTAKA Arida, I. N. S. Buku Ajar Pariwisata Berkelanjutan. Sustain-Press. Retrieved July 15, 2020, from Prinsip Ekowisata Bahari dalam Pengembangan Produk Wisata Karampuang untuk Mencapai Pariwisata Berkelanjutan Volume 12, Nomor 2, September 2020 Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat. 2018. Provinsi Sulawesi Barat dalam Angka. Budiman, M. A., Mawardi, M. K., & Hakim, L. 2017. Identifikasi Potensi dan Pengembangan Produk Wisata serta Kepuasan Wisatawan terhadap Produk Wisata Studi Kasus Di Pantai Bangsring, Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Administrasi Bisnis, 504, 55–63. Burns, P. M., & Holden, A. 1995. Tourism A New Perspective. Prentice Hall. Wibowo, D. M. 2020, February 10. Save Our Sea Membangun Ekowisata Bahari Berbasis Masyarakat. Warta Ekonomi. Fandeli, C., & Mukhlison. 2000. Pengusahaan Ekowisata C. Fandeli, Ed.. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Ketjulan, R. 2010. Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Ekowisata Bahari Pulau Hari Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara [IPB]. Kotler, P., & Armstrong, G. 1989. Principles of Marketing. Prentice Hall. Lindberg, K., & Hawkins, D. E. 1995. Ecoturismo Um guia para planejamento e gestão. Senac. Middleton, V. T. C. 2001. Marketing in Travel and Tourism Third Edition. Butterworth-Heinemann. Muchtar. 2013. Metode Penelitian Deskriftif Kualitatif. GP Press Group. Nawawi, H., & Martini, M. 1996. Penelitian Terapan. Gadjah Mada University Press. Nazhima, A. A., & Arida, I. N. S. 2019. Pengembangan Produk Pariwisata Melalui Penerapan Prinsip-Prinsip Ekowisata Bahari Di Pantai Labuhan Amuk, Desa Antiga, Karangasem, Bali. Jurnal Destinasi Pariwisata, 62, 252. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. 2018. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Barat nomor 1 tahun 2019 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Barat tahun 2018-2025. Pemerintah Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Pemerintah Republik Indonesia. Razak, F. ., Suzana, B. O. L., & Kapantow, G. H. M. 2017. Strategi Pengembangan Wisata Bahari Pantai Malalayang, Kota Manado, Sulawesi Utara. Agri-Sosioekonomi, 131A, 277–284. Samiyono, & Trismadi. 2001, 31 Mei. Peta Pelayaran Wisata Bahari Indonesia. Prosiding Seminar Laut Nasional III. Paper dipresentasikan pada Seminar Laut Nasional III, Perpustakaan Balitbang KP. Suswantoro, G. 2007. Dasar-Dasar Pariwisata. Andi Offset. Weiler, B., & Hall, C. M. 1992. Special Interest Tourism. Wiley. Yoeti, O. A. 2002. Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Cetakan Pertama. Pradnya Paramita. Yulius, R. R., Kadarwati, U. R., Ramdhan, M., Khairunnisa, T., Saepuloh, D., Subandriyo, J., & Tussadiah, A. 2018. Buku Panduan Kriteria Penetapan Zona Ekowisata Bahari Fredinan Yulianda, Handoko Adi Susanto, Roby Ardiwidjaja, & Erish Widjanarko, Eds.; Cetakan Pertama. IPB Press Printing. ... A tourist attraction is one of the products or advantages of an area, where the region can create income and interest. So that it can attract tourists to tourist destinations [2], of course, this is an essential requirement in improvement to introduce tourism advantages owned by Garut Regency. The tourist attraction is one of the places in great demand by the public to take advantage of their spare time. ...Leni Fitriani Dini Destiani Siti FatimahHasbi MuhtadillahTourism is a journey from one place to another. Whether it is an individual, a group, or a company, participants on this trip are interested in mental balance, such as reducing stress, entertaining themselves, and refreshing. A tourist attraction is one of the products or advantages of an area, where the region can create income and attract tourists to their tourist destinations. One way to promote tourism more attractively is with augmented reality media. This tourism introduction application using Augmented reality technology aims to make it easier for tourists to get to know tourism with interactive media. This tourism introduction application is needed for promotional media, including video playback features of Augmented reality technology and information about tourism. Augmented Reality is a real object in an area map that will become a marker object by detailing the tourist plan. A scan can be carried out to display 2D images, text, audio, and video with the android platform so that it can make it easier for users to use it. This research aims to design and build a tourism introduction application with the Application of Augmented Reality Technology. This research uses the Multimedia Development Life cycle method, with six stages concept, design, material collecting, assembly, testing, and distribution, with the testing method using alpha and beta tests. The results of this research are in the form of an Android-based tourism introduction augmented reality application. This application can give contributions to assist tourists in finding information about tourism in an area and help the Department of Tourism and Culture promote tourism in the region more attractively.... Pariwisata merupakan sektor andalan untuk pemasukan devisa negara di Indonesia dan menjadi sektor yang memiliki posisi semakin penting dalam pembangunan berbagai daerah di Indonesia Priangani et al., 2020. Produk pariwisata terbagi menjadi produk yang memiliki fisik tangible dan produk yang tidak memiliki wujud fisik intangible Sasongko et al., 2020. Dalam pengembangan sektor pariwisata, desa juga memainkan peran penting untuk memperhatikan aspek sosial, lingkungan bahkan budaya. ...Sustainable development is an issue discussed by the current government apparatus. In the tourism sector also every region began to focus on sustainable tourism Sustainable tourism is an alternative to mass tourism and efforts to increase positive effects and reduce the harmful effects of tourism on local communities and the natural environment. Munding is a village located in Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Desa Munding has tourism potential including Curug Tirto Wening, Curug Tirto Wati, Bukit Kembar Cemanggal, and Religious Tourism Tomb sheikh syarif. However, the tour has not been entirely appropriately managed, so it requires further management to become a tour with good governance. There are three priority aspects focused on this devotion human resources, infrastructure, and participation. The solution to human resource problems are done through the socialization of tourism village management and improving the literacy of tourism village development to the local community. Furthermore, the solution to infrastructure problems is done by rejuvenating existing facilities and infrastructure and continuously monitoring facilities and infrastructure. So always maintain it is quality. Meanwhile, the solution to the problem of low participation is done by integrating all elements supporting tourist villages, including village-owned enterprises in the Munding village. Through the assistance, it is expected that Munding village becomes a tourist village with a higher selling value to improve the community's MonyA Zaky MarasabessyJusuf SahupalaKawasan Tanjung Setan memiliki potensi wisata bahari yang banyak menarik minat wisatawan berkunjung dan melakukan aktifitas di laut secara bebas tanpa pengawasan. Aktifitas di laut oleh wisatawan telah mengakibatkan terjadinya eksploitasi sumber daya laut dan ekosistemnya yang semestinya dilindungi. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi sumber daya laut/pesisir terutama Kerang Kima Tridacna sp. yang merupakan salah satu biota laut yang harus dilindungi, dan menganalisis peluang dan strategi pengembangan ekowisata bahari untuk perlindungan dan pelestarian kawasan ini. Pendekatan yang digunakan adalah survey lapangan untuk mengetahui gambaran singkat potensinya, wawancara dengan tokoh tokoh masyarakat local dan para pemilik Community Based Tourism CBT terkait persepsi dan dukungan serta kondisi actual wisatawan saat berkunjung, dan analisis swot untuk strategi pengembangan Ekowisata Bahari di kawasan ini. Hasil studi menunjukan bahwa di kawasan Tanjung Setan terdapat beberapa jenis Kerang Kima Tridacna sp. yang perlu dilindungi dan dilestarikan, dan konsep wisata yang sesuai adalah Ekowisata. Oleh karena itu penetapan Kawasan Tanjung Setan sebagai kawasan Ekowisata Bahari penting dan mendesak sesuai regulasi yang bertujuan untuk perlindungan dan pelestarian biota Kima dan ekosistemnya di kawasan FitridamayantiBenu Olfie L. Suzana Gene KapantowThis study aims to formulate the development strategy of Malalayang Coastal Tourism of Manado City. This research uses descriptive method where data are collected, analyzed and descripted by using qualitative approach. Qualitative approach describes the responses of respondents to marine tourism based on the given questionnaire. Data collection conducted through field observation, interview and literature study. The results of this study indicate that the strategy of marine tourism development Malalayang Beach lies in the position of quadrant I or lies between external opportunities and internal strength. Strategy of maritime tourism development Malalayang Beach Manado City is to maintain and preserve the surrounding environment, the need for the development of facilities and facilities of tourism objects, the rearrangement of “sabua bulu” as a culinary place and the need for management of the government and private sector to be more focused and run well and both The parties agreed to cooperate to develop sustainable tourism Malalayang Coastal..Adilah Ata Nazhima Sukma AridaBackground in this research begins with the existence of two kinds of tourism that is mass tourism and Alternative tourism, where in Alternative tourism there is one kind of tourism that is Ecotourism. Marine Tourism is one form of ecotourism. Labuan Amuk Beach has great natural potential to be developed. Lots of activities that can be done at Labuan Amuk Beach such as snorkeling and fishing. The purpose of this research is to know the existing condition of Labuan Amuk Beach, to develop product activity through its own natural potential, to identify product development opportunities, and to describe marine eco-tourism principles in Labuan Amuk Beach. Data collection in this research is done by observation, interview, and documentation. The method used in this research is qualitative method and the collected data is analyzed descriptively result obtained in this research is the existing condition of Labuan Amuk Beach which consists of attraction, accessbilites, amenities, and anciliary. While the potential is in Labuan Amuk Beach is the potential of nature and get what are the opportunities of product development and know the explanation of the principles of marine ecotourism at Labuan Amuk Beach Some suggestions that should be considered in this research are improvements to the role of government as facilitators and local communities as participants. In addition, the need for cooperation between stakeholders to synergize with each other to develop tourism in Labuan Amuk Beach. Keyword Development, Potential, Product, Marine EcotourismThis new edition retains ints authoritative presentation of marketing theory while still maintaining an interesting and engaging writing style. Stewart Adam, Deakin University; Sara Denize, University of Western Sydney, Australia.
Maknanya adalah seluruh butir valid karena mampu mengukur apa yang seharusnya diukur Widoyoko, 2012. Seluruh butir selanjutnya digunakan dalam uji reliabilitas. Hasil uji reliabilitas menunjukkan perolehan nilai α = atau > Dengan demikian angket dinyatakan reliabel, sehingga dapat digunakan dalam pengumpulan data penelitian Widoyoko, 2012. Profil Responden Pada Tabel 1 digambarkan profil responden. Secara umum, berdasarkan jenis kelamin dapat dikatakan jumlah pramuwisata pria dan wanita tidak terlalu berbeda, yaitu 56% pria dan 44% wanita. Dari hal ini dapat dikatakan bahwa dunia kepemanduan wisata tidak memiliki batasan gender, dan diisi baik oleh pria maupun wanita. Selain itu, perkembangan dunia pariwisata yang semakin global menuntut pramuwisata selalu meningkatkan kapasitas dirinya termasuk dalam hal pendidikan. Saat ini jumlah pramuwisata anggota HPI Jakarta yang memiliki jenjang pendidikan tinggi D3 dan sarjana mendominasi yaitu sebesar yaitu 69%. Bidang kerja pramuwisata semakin diminati dan menjadi pilihan profesi. Hal ini dibuktikan dari kategori usia di mana usia produktif di atas 25 tahun 55 tahun menunjukkan jumlah terbesar yaitu 76%. Sementara sisanya sedikit berada pada kategori usia di bawah 25 tahun 14% dan di atas 55 tahun 10%. Profesi pramuwisata sebagai pilihan bidang kerja juga ditunjukkan melalui data masa kerja, di mana profesi ini telah ditekuni selama > 2 tahun oleh pramuwisata. Tabel 1 Profil Responden Tingkat pendidikan SMA/SMK D3 non pariwisata D3 pariwisata Sarjana Usia 17-25 26-35 36-45 46-55 56-65 Prosiding Seminar Nasional, STIE Pariwisata Internasional. “Pemberdayaan Sumber Daya Di Tengah Kemajuan Teknologi Untuk Keberlanjutan Industri Pariwisata Di Indonesia”. Jakarta, 21 November 2018. 65 Tabel Lanjutan Jenjang lisensi Pramuwisata muda Pramuwisata madya Tour leader Sumber Hasil olah data, 2018 Penerapan Prinsip-Prinsip Ekowisata Oleh Pramuwisata DKI Jakarta Berdasarkan output olah data diperoleh hasil rata-rata mean penerapan prinsip-prinsip ekowisata oleh pramuwisata DKI Jakarta sebesar sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2 berikut Tabel 2 Rata-Rata Penerapan Prinsip Ekowisata penerapan prinsip ekowisata Angka di atas diterjemahkan ke dalam garis interval nilai rata-rata dengan interval frekuensi diperoleh gambaran sebagai berikut Gambar 2 Garis Interval Penerapan Prinsip Ekowisata Dengan nilai rata-rata penerapan prinsip-prinsip ekowisata oleh pramuwisata sebesar maka angka ini berada pada posisi di antara kategori “sering” dan “selalu” tetapi lebih mendekati “sering”. Secara umum dapat dijelaskan bahwa dalam menjalankan tugas pemanduannya pramuwisata DKI Jakarta sering namun tidak selalu menerapkan prinsip-prinsip ekowisata. Hasil ini menunjukkan bahwa belum semua pramuwisata menyadari pentingnya penerapan prinsip ekowisata selama pramuwisata tersebut bertugas. Penelaahan lebih lanjut dilakukan dengan uji beda dengan menggunakan Kruskal Wallis Test berdasarkan tingkat pendidikan pramuwisata, yang terdiri atas SMA/SMK, D3 non pariwisata, D3 pariwisata, dan sarjana. Usman 2011 menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan karyawan maka akan semakin tinggi kinerja yang ditampilkan. Hal ini didukung oleh hasil penelitian empirik yang dilakukan oleh Wirawan, et al. 2016 yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan dan pengalaman kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Hipotesis yang diterapkan sebagai berikut Ha Terdapat perbedaan penerapan prinsip ekowisata oleh pramuwisata DKI Jakarta berdasarkan tingkat pendidikan. H0 Tidak terdapat perbedaan penerapan prinsip ekowisata oleh pramuwisata DKI Jakarta berdasarkan tingkat pendidikan. Kriteria pengujian yang digunakan adalah jika nilai signifikansi maka H0 diterima dan Ha ditolak. Berkaitan dengan penerapan prinsip-prinsip ekowisata berdasarkan tingkat pendidikan pramuwisata, pada Tabel 3 diperoleh nilai signifikansi sebesar atau > Tabel 3 Hasil Uji Beda Berdasarkan Tingkat Pendidikan Penerapan prinsip ekowisata b. Grouping Variable tingkat pendidikan Prosiding Seminar Nasional, STIE Pariwisata Internasional. “Pemberdayaan Sumber Daya Di Tengah Kemajuan Teknologi Untuk Keberlanjutan Industri Pariwisata Di Indonesia”. Jakarta, 21 November 2018. 67 Tabel 3 menunjukkan hasil bahwa pada penelitian ini tingkat pendidikan pramuwisata DKI Jakarta tidak memberikan perbedaan yang signifikan terhadap penerapan prinsip-prinsip ekowisata oleh pramuwisata. Hal ini dibuktikan dengan hasil nilai signifikansi sebesar atau > Hasil ini tidak mendukung penelitian sebelumnya oleh Wirawan et al. 2016. Selanjutnya dilakukan analisa dengan menghitung nilai rata-rata mean penerapan prinsip ekowisata berdasarkan tingkat pendidikan yang hasilnya ditampilkan pada Tabel 4. Hasil olah data menunjukkan bahwa nilai rata-rata penerapan prinsip ekowisata berdasarkan tingkat pendidikan sebesar Tabel 4 Nilai Rata-Rata Berdasarkan Tingkat Pendidikan penerapan prinsip ekowisata Gambar 3 memperlihatkan nilai rata-rata tersebut ketika diterjemahkan ke dalam garis interval. Posisi penerapan prinsip ekowisata berdasarkan tingkat pendidikan berada pada kategori di antara “sering” dan “selalu”, tetapi lebih mendekati “sering”. Gambar 3 Garis interval nilai rata-rata berdasarkan tingkat pendidikan Telaah penerapan prinsip-prinsip ekowisata oleh pramuwisata DKI Jakarta dilakukan juga berdasarkan jenjang lisensi pramuwisata muda, pramuwisata madya, tour leader, dengan hipotesis sebagai berikut Ha Terdapat perbedaan penerapan prinsip ekowisata oleh pramuwisata DKI Jakarta berdasarkan jenjang lisensi. H0 Tidak terdapat perbedaan penerapan prinsip ekowisata oleh pramuwisata DKI Jakarta berdasarkan jenjang lisensi. Kriteria pengujian yang digunakan adalah jika nilai signifikansi maka H0 diterima dan Ha ditolak. Berkaitan dengan penerapan prinsip-prinsip ekowisata berdasarkan jenjang pramuwisata, pada Tabel 5 diperoleh nilai signifikansi sebesar atau maka H0 diterima dan Ha ditolak. Dilihat dari jumlah pramuwisata berdasarkan masa kerja, jumlah terbanyak ada pada kategori pramuwisata dengan masa kerja lebih dari 2 tahun. Perbandingan antar kelompok pramuwisata berdasarkan masa kerja menunjukkan adanya perbedaan dalam menerapkan prinsip-prinsip ekowisata. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar atau 2 tahun memiliki nilai rata-rata sebesar sementara pramuwisata dengan masa kerja ≤ 2 tahun lebih rendah yaitu Tabel 8 Nilai Rata-Rata Berdasarkan Masa Kerja Prosiding Seminar Nasional, STIE Pariwisata Internasional. “Pemberdayaan Sumber Daya Di Tengah Kemajuan Teknologi Untuk Keberlanjutan Industri Pariwisata Di Indonesia”. Jakarta, 21 November 2018. 71 Hasil di atas jika diterjemahkan ke dalam garis interval menunjukkan posisi penerapan prinsip ekowisata berdasarkan masa kerja sebagai berikut Gambar 5 Garis Interval Nilai Rata-Rata Berdasarkan Masa Kerja Pramuwisata dengan masa kerja >2 tahun menunjukkan nilai rata-rata yang lebih tinggi lebih menjauhi “sering” daripada pramuwisata dengan masa kerja ≤2 tahun. Artinya pramuwisata dengan masa kerja >2 tahun lebih sering menerapkan prinsip-prinsip ekowisata selama ia bertugas. Hasil tersebut didukung penelitian Kong 2012 yang menjelaskan bahwa pramuwisata yang memiliki masa kerja lebih dari dua tahun memperoleh informasi lebih banyak mengenai perlindungan lingkungan dibandingkan pramuwisata yang masih baru. Ketika pramuwisata mendapatkan sertifikat kompetensi, mereka telah dibekali dengan beberapa unit kompetensi yang erat kaitannya dengan ekowisata, antara lain unit kompetensi Mengembangkan Materi Penafsiran untuk Kegiatan Ekowisata dan Melakukan Kegiatan yang bersifat Interpretasi. Oleh karena itu, setelah mengikuti pelatihan dan sertifikasi kompetensi, pramuwisata mengetahui bahwa merupakan tugasnya untuk menyampaikan dan memberi contoh perilaku yang sesuai dengan prinsip-prinsip ekowisata. Tetapi dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa belum semua pramuwisata menerapkan prinsip-prinsip ekowisata selama bertugas sering, tetapi tidak selalu. Temuan penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kong 2012 yang meneliti pramuwisata di Cina. Ditemukan bahwa walaupun pramuwisata menyadari bahwa informasi yang disampaikan dapat mengubah persepsi dan perilaku wisatawan terhadap lingkungan, tidak semua pramuwisata menyadari sepenuhnya bahwa memberikan pendidikan lingkungan bagi wisatawan merupakan salah satu tugas mereka. Untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan interpretasi ekowisata maka penting bagi pramuwisata untuk meningkatkan kompetensinya di bidang kepemanduan wisata dengan mengikuti pelatihan terkait ekowisata. Black dan Ham 2005 mengatakan bahwa dalam kegiatan pelatihan tersebut perlu ditekankan tiga peran kunci seorang pramuwisata terkait dengan perilaku sesuai prinsip ekowisata, yaitu 1 sebagai seorang pemberi informasi khusus, 2 sebagai interpreter, dan 3 sebagai motivator untuk nilai-nilai konservasi dan penerapan perilaku yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Beberapa penelitian menemukan bahwa peran pramuwisata utamanya adalah sebagai interpreter, terutama di lokasi dimana perilaku wisatawan yang tidak sesuai dapat menyebabkan kerusakan pada lingkungan Yamada, 2011. Seperti yang disarankan oleh Christie dan Mason 2003, pelatihan terhadap pramuwisata seharusnya tidak hanya meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan pramuwisata tetapi juga memfasilitasi perubahan pada perilaku atas aktivitas lingkungan yang bertanggung jawab. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan cara 1 menyelenggarakan kunjungan bagi pramuwisata ke taman wisata alam, mengundang pakar untuk memperkenalkan pengetahuan bidang ekowisata, serta menyelenggarakan lokakarya dan seminar yang memungkinkan pramuwisata senior untuk berbagi pengalaman dan informasi mengenai kepemanduan berbasis alam dan lingkungan. Diharapkan melalui kegiatan-kegiatan ini pramuwisata dapat meningkatkan ketrampilan interpretasi dan komunikasi terkait wisata alam dan ekowisata. Pramuwisata senior dapat memotivasi pramuwisata lainnya untuk berkontribusi terhadap pariwisata berkelanjutan. 2 memberikan insentif terhadap pramuwisata yang memiliki performa di atas standar yang ada. Untuk itu, diperlukan penetapan terhadap standar pengukuran perilaku dan interpretasi pramuwisata. 3 menyelenggarakan kompetisi bagi pramuwisata di bidang kepemanduan yang berwawasan lingkungan Kong, 2012. Prosiding Seminar Nasional, STIE Pariwisata Internasional. “Pemberdayaan Sumber Daya Di Tengah Kemajuan Teknologi Untuk Keberlanjutan Industri Pariwisata Di Indonesia”. Jakarta, 21 November 2018. 73 Penelitian yang dilakukan oleh Higham dan Carr 2003 menunjukkan bahwa wisatawan mengapresiasi interpretasi yang diberikan oleh pramuwisata dalam rangka meningkatkan kesadaran terhadap isu-isu lingkungan dan menurunkan dampak negatif perilaku wisatawan terhadap lingkungan. Wisatawan juga percaya bahwa kehadiran pramuwisata membantu meminimalisasi perilaku wisatawan yang kurang sesuai saat berada di daya tarik wisata. Hal ini menunjukkan bahwa penting bagi pramuwisata untuk menyadari bahwa peran mereka dalam menyampaikan interpretasi dapat mempengaruhi kepuasan wisatawan. Penelitian lain yang mendukung adanya keterkaitan antara kemampuan interpretasi pramuwisata dengan kepuasan wisatawan juga diperoleh dari Hiwasaki 2006. Hasil penelitiannya menjelaskan bahwa ketidakpuasan wisatawan salah satunya dipengaruhi oleh minimnya pengetahuan pramuwisata tentang budaya lokal dan wawasan lingkungan. Penutup Simpulan dan Saran Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa secara umum penerapan prinsip-prinsip ekowisata sering dilakukan oleh pramuwisata DKI Jakarta dalam menjalankan tugas pemanduannya, namun belum pada tahapan selalu menerapkan. Ditemukan juga bahwa tidak ada perbedaan penerapan prinsip ekowisata oleh pramuwisata berdasarkan tingkat pendidikannya. Sementara perbedaan muncul pada jenjang lisensi dan masa kerja. Semakin tinggi jenjang lisensi pramuwisata, dan semakin lama masa kerjanya, maka pramuwisata semakin sering menerapkan prinsip-prinsip ekowisata selama bertugas memandu wisatawan. Mengingat beberapa unit kompetensi fungsional pramuwisata terkait dengan ekowisata, maka seharusnya prinsip-prinsip ekowisata harus selalu diterapkan dalam setiap tugas pemanduan pramuwisata DKI Jakarta. Untuk itu, perlu diberikan pembekalan tambahan sehingga pramuwisata menyadari bahwa merupakan kewajibannya untuk selalu menerapkan prinsip-prinsip ekowisata selama bertugas. Pembekalan tambahan ini juga diharapkan dapat membuat kemampuan pramuwisata terkait ekowisata lebih meningkat. Selain itu, perlu dipertimbangkan pemberian insentif dan apresiasi terhadap pramuwisata yang selalu menerapkan prinsip-prinsip ekowisata selama bertugas. Daftar Pustaka Buku dan Jurnal Asmara, Y. & Suhirman. 2012. Persepsi dan Sikap Masyarakat Terhadap Kegiatan Ekowisata Kampung Cikidang Desa Langensari Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. A SAPPK V V1N2. Black, R. and Ham, S. 2005. Improving the quality of tour guiding towards a model for tour guide certification. Journal of Ecotourism, 43, 178-195, DOI London. Christie, and Mason, 2003. Transformative tour guiding Training tour guided to be critically reflective practitioners. Journal of Ecotourism, 2 1, 1-16. Cole, Stroma. 2008. Tourism, Culture and Development Hopes, Dreams and Realities in East Indonesia. Clevedon Cromwell Press. Eagles, P. F. J., McCool, and Haynes, 2002. Sustainable Tourism in Protected Areas-Guidelines for Planning and Management. Gland, Switzerland IUCN. Ham, S. H. 1992. Environmental Interpretations A Practical Guide for People With Big Ideas and Small Budget. Golden, CO North American Press. Higham. J. E. S., & Carr, A. M. 2003. Sustainable Wildlife Tourism in New Zealand An Analysis of Visitor Experiences. Human Dimensions of Wildlife, 8, 25-36. Huang, S., Hsu, C. H. C., & Chan, A. 2010. Tour Guide Performance and Tourist Satisfaction A Study of Package Tours in Shanghai. Journal of Hospitality and Tourism Research, 273, 291-309. Prosiding Seminar Nasional, STIE Pariwisata Internasional. “Pemberdayaan Sumber Daya Di Tengah Kemajuan Teknologi Untuk Keberlanjutan Industri Pariwisata Di Indonesia”. Jakarta, 21 November 2018. 75 Husaini, Usman. 2011. Manajemen Teori, Praktik dan Riset Pendidikan. Jakarta Bumi Aksara. Jumail, Mohamad. 2017. Teknik Pemanduan Wisata. Yogyakarta Penerbit Andi. Latupapua, Yosefita. 2011. Persepsi Masyarakat Terhadap Potensi Obyek Daya tarik Wisata Pantai di Kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara. Jurnal Agroforestri Volume VI Nomor 2 Juni 2011. Mar’ad. 2001. Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya. Bandung Ghalia Indonesia. Notoatmodjo, S. 2012. Metode Penelitian Kesehatan, edisi revisi, Rineke Cipta. Jakarta Kong, Haiyan. 2012. Are Tour Guides in China Ready for Ecotourism? An Importance–Performance Analysis of Perceptions and Performances. Asia Pacific Journal of Tourism Research, 2014 Vol. 19, No. 1, 17–34, Page, S. J., & Dowling, R. K. 2002. Ecotourism. Harlow, England Prentice Hall, Pearson Education. Pamungkas, Gilang. 2013. Ekowisata Belum Milik Bersama Kapasitas Jejaring Stakeholder dalam Pengelolaan Ekowisata Studi Kasus Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol. 24 No. 1, April 2013. Putra, I Wayan Indra., Suwendra, I Wayan., Bagia, I Wayan. 2016. Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Disilpin Kerja terhadap Kinerja Karyawan. E-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha, Jurusan Manajemen Volume 4 Tahun 2016. Soetopo, Toni. 2007. Provinsi Nusa Tenggara Barat NTB Menghadapi Visit Indonesia Year 2008. Jurnal Komunika Majalah Ilmiah Komunikasi Dalam Pembangunan ISSN 0126-2491 Volume 10 Nomor 2 Tahun 2007. Supranto, J. 2010. Statistik Teori dan Aplikasi. Jakarta UI Press. Widoyoko. 2012. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta ID Pustaka Pelajar. Wirawan, Ketut Edy., Bagia, I Wayan., Susila, Gede Putu Agus Jana. 2016. Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Pengalaman Kerja terhadap Kinerja Karyawan. E-Journal Bisma Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Manajemen. Volume 4 Tahun 2016 1. Yamada, Naoko 2011. Why Tour Guiding Is Important for Ecotourism Enhancing Guiding Quality With The Ecotourism Promotion Policy in Japan. Asia Pacific Journal of Tourism Research Vol. 16, No. 2, April 2011. Undang-Undang dan Peraturan Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Nomor Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP. 57/MEN/III/2009 Tentang Penetapan SKKNI Bidang Kepemanduan Wisata Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pengembangan Ekowisata SKKNI Fungsional BPW. Kementerian Pariwisata RI. UNWTO. 2012 Definition of Sustainable Tourism. Source diakses 17 Juli 2018. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. WFTGA. 2003. 10th International Convention Dunblane, United Kingdom. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this publication. Haiyan KongThis study aims to examine tour guides' perceptions about and behavior toward ecotourism. The target respondents were tour guides working in the front line of the tourism industry. A total of 350 data sets were collected in China. An importance–performance analysis was applied to examine the tour guides' perceived importance and performance simultaneously. The findings indicate that although the tour guides have realized the importance of ecological protection, they fail to perform well in educating tourists on the paradigm of ecotourism. Thus, the results may provide useful guidance for tourism management. This study concludes with a discussion of limitations and suggestions for future research. Naoko YamadaThe Ecotourism Promotion Policy in Japan requires tour guiding to be employed, although it provides little rationale for it. This paper reviews the literature to illustrate why tour guiding is important for achieving policy and ecotourism goals in order to support this requirement. An overview of ecotourism policy in Japan is provided, contributions of tour guiding to achieving the policy and ecotourism goals are described, and approaches to strengthening current practices along with the policy are discussed. It is suggested that non-profit organizations offer training to impart knowledge about guiding roles and interpretation at a national level and that ecotourism promotion councils teach knowledge about ecotour products and tourists at a regional certification is one mechanism used to assist in maintaining and improving professional or technical competence in numerous professions. It can potentially be used to assist in improving tour guide performance and raising and maintaining guiding standards. The aim of this research was to critically analyse the development of the Australian EcoGuide Program as a basis for building a model for tour guide certification as one mechanism of improving the quality of tour guiding. This was achieved through a review of the relevant literature, and by analysing the content, process, and elements of the EcoGuide Program, and selected industry stakeholders' views of the Program. A mixed methods approach was adopted and five data collection methods were used a telephone survey, in-depth interviews, focus group interviews, on-site questionnaires and secondary data analysis. Data were collected from six research populations nature/ecotour guides, nature-based tour operators, members of the EcoGuide Steering Committee, EcoGuide assessors, the Department of Industry, Science and Resources and Australian protected area managers. The results were triangulated to build an understanding of the content, elements, development process and stakeholders' views of the EcoGuide Program. The findings of this analysis are presented in a general model for tour guide is an indispensable tool for achieving the goals of ecotourism Weiler & Ham, 2001. Tour guiding is an educational activity that is part of the process of interpretation Knudson et al., 1995; Pond, 1993. In the past, tour guides were usually untrained, but guide training is now common in most developed countries McArthur, 1996. Tour guide training is an adult education activity, but much training is competency-based with an emphasis on knowledge transmission and skill acquisition. This article suggests that good training should lead to change, not only in terms of knowledge and skills, but also in attitudes and behaviour. It argues that good guide training should alter how guides think and act, and suggests that if trainee guides learn how to critique their own knowledge, attitudes and behaviour, they will be able to offer their clients tourists something more than a superficial introduction to a new environment, country or culture. Current guide-training practices in selected countries are reviewed and discussed. A case study of tour guide training in Kakadu National Park, Australia is presented and used as the basis for a proposed model of training, termed 'transformative tour guiding', which could improve the quality of ecotour guiding, as well as help sustain tourism is now the world's number one industry, and protected areas are the focus of an increasing proportion of it. It is imperative to manage tourist pressures so that visitors can appreciate protected areas without damaging what they come to study examines tour guide performance and its relationship with tourist satisfaction in the context of package tours in Shanghai. A multilayer framework of tourist satisfac-tion in the package tour context is proposed. Tourist satisfaction was conceptualized to include three aspects/layers satisfaction with guiding service, satisfaction with tour services, and satisfaction with the overall tour experience. Tour guide performance was found to have a significant direct effect on tourist satisfaction with guiding service and an indirect effect on satisfaction with tour services and with tour experience. Satisfaction with guiding service positively affected satisfaction with tour services but showed no direct effect on satisfaction with the overall tour experience. However, indirect effect of satisfaction with guiding service on satisfaction with tour experience mediated by satis-faction with tour services was significant. Implications for tour operators and govern-ment agencies are discussed. KEYWORDS tour guide performance; tourist satisfaction; tour operator; tour expe-rience; service quality Tour guides are frontline employees in the tourism industry who play an important role in shaping tourists' experience in a destination. Tour-guiding service is the core component of various tour services offered by tour operators. Whether tour guides can deliver quality service to tourists is not only essential to the business success of the tour operators they are affiliated with but also critical to the overall image of the destination they represent. In China, tourism authorities at different levels attach great importance to the industry practice regarding tour-guiding service. In 1989, the China National Tourism Administration CNTA launched the National Tour Guide Qualification Stroma ColeCan tourism help a poor remote community to develop? How much does tourism change a village? How can a village have the benefits tourism offers without the problems it can cause? These are the questions that lie at the core of this text. Using an anthropologist's eye and a high degree of trust, this book uncovers the story of tourism development in two small villages on a remote island of Eastern ethnography provides a rich description of life in a non-western marginal community in a contemporary global context and how they face the challenge of balancing socio-economic integration and cultural distinction. It uncovers the conflicts of tourism development between a poor community, tourists, governments and brokers. This micro study has ramifications beyond the locality. Many other villages in Indonesia are experiencing similar issues. Many of the challenges are relevant to peripheral communities across the globe. Themes in this book will resonate with studies of tourism, tourists, development, globalisation and cultural change from around the Higham Senior Lecturer Anna CarrVisitors to wildlife tourism attractions can provide valuable insights into the sustainability of the businesses that they visit. Qualitative data collection employing participant observations and visitor interviews was conducted at 12 ecotourism operations that offer wildlife tourism experiences in New Zealand. The objective was to develop insights into the visitor experience and to understand the viewpoints of visitors regarding the sustainability of those experiences. Although other dimensions of the wildlife tourism experience exist, important social and ecological dimensions of the visitor experience emerged from this research. Four prominent themes, which were identified within these dimensions, are presented and discussed. The results provide insights into sustainable wildlife tourism development in New Zealand, with implications for the design of interpretation programs, visitor management, and the delivery of several defining aspects of sustainable wildlife tourism experiences. Berbicara mengenai Bali tentunya selalu dikaitkan dengan industri pariwisatanya yang telah berkembang sejak puluhan tahun silam. Pertumbuhan industri ini nyatanya telah menimbulkan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan sektor ekonomi dan industri lainnya di Pulau Dewata. Hanya saja, sebagai industri yang menggabungkan barang dan jasa, eksistensi pariwisata sangat bergantung pada keberadaan konsumen, yaitu wisatawan. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan kuantitas wisatawan ke Bali di tengah kompetisi industri pariwisata secara global. Menurut akademisi sekaligus praktisi pariwisata, Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE, MA, pengembangan pariwisata berkelanjutan dapat menjadi solusi meningkatkan daya saing kepariwisataan Bali. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Prinsip Pariwisata Harus Mengedepankan Konsep Berkelanjutan dan Berkualitas by travelife Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE, MA Rektor Universitas Dhyana Pura Berbicara mengenai Bali tentunya selalu dikaitkan dengan industri pariwisatanya yang telah berkembang sejak puluhan tahun silam. Pertumbuhan industri ini nyatanya telah menimbulkan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan sektor ekonomi dan industri lainnya di Pulau Dewata. Hanya saja, sebagai industri yang menggabungkan barang dan jasa, eksistensi pariwisata sangat bergantung pada keberadaan konsumen, yaitu wisatawan. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan kuantitas wisatawan ke Bali di tengah kompetisi industri pariwisata secara global. Menurut akademisi sekaligus praktisi pariwisata, Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE, MA, pengembangan pariwisata berkelanjutan dapat menjadi solusi meningkatkan daya saing kepariwisataan Bali. Menurut Gusti Rai Utama, pariwisata berkelanjutan atau sustainable tourism merupakan konsep pariwisata yang memperhitungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, tidak hanya untuk saat ini melainkan juga di masa depan. Keberadaan kegiatan pariwisata tidak hanya memberikan keuntungan atau profit bagi investor, juga menyejahterakan masyarakat lokal. Serta tetap mempertahankan keanekaragaman hayati di suatu destinasi wisata dan melestarikan nilai-nilai warisan budaya masyarakat setempat. Gusti Rai Utama yang juga menjabat sebagai Rektor Universitas Dhyana Pura periode 2019-2023 ini optimis jika konsep pariwisata berkelanjutan dapat terealisasikan di Bali. Terbukti dengan adanya gerakan pembangunan pariwisata berkelanjutan di desa-desa wisata, baik yang diinisiasi oleh pemerintah maupun dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Gusti Rai Utama pun berkesempatan menjadi salah satu fasilitator dalam Program Pendampingan Desa Wisata yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. “Prinsip keberlanjutan yang diterapkan dalam program pendampingan desa wisata ini adalah mewujudkan idealisme ekonomi berbasis kerakyatan. Hal ini diimplementasikan dengan memberdayakan seluruh elemen di desa untuk menggerakkan pariwisata. Sebagai contoh, tidak diperlukan pembangunan akomodasi baru di desa wisata. Rumah-rumah warga dapat dimanfaatkan sebagai homestay. Di satu sisi menjadi daya tarik bagi wisatawan sementara di sisi lain dapat memunculkan rasa kebanggaan terhadap masyarakat lokal karena mereka tidak hanya menjadi penonton melainkan telah berpartisipasi di industri pariwisata Bali,” ujar Gusti Rai Utama. Lanjutnya, dampak positif lainnya yang dirasakan oleh desa binaan adalah tidak adanya eksploitasi lingkungan untuk kepentingan pariwisata. Selama ini pariwisata dianggap sebagai penyebab kerusakan ekologi karena kegiatan pariwisata memerlukan pembukaan lahan secara masif. Melalui konsep pariwisata berkelanjutan ini, pelaku pariwisata hanya perlu mengelola potensi alam yang ada secara bijak guna mewujudkan prinsip keberlanjutan pada aspek lingkungan hidup. Prinsip Pariwisata Berkualitas Lebih jauh Gusti Rai Utama memaparkan, tidak hanya prinsip keberlanjutan tetapi juga prinsip pariwisata berkualitas menjadi concern bagi semua pihak. Pria yang meraih gelar Doktoral Pariwisata di Universitas Udayana ini mengatakan bahwa pariwisata yang berkualitas mengacu pada tiga dimensi atau Triangle Quality Tourism. Pertama adalah Quality of Touris Experience atau kualitas pengalaman berwisata yang dirasakan wisatawan. Dalam dunia pariwisata, kepuasan wisatawan menjadi indikator keberhasilan layanan dalam industri. Setelah mengetahui bahwa kepuasan para wisatawan bergantung pada kualitas servis yang diberikan, maka perlu diketahui apa saja yang dapat mempengaruhi kualitas pelayanan tersebut. Misalnya saja tingkat pendidikan dan kesejahteraan hidup SDM. Semakin tinggi tingkat pendidikan atau semakin tinggi tingkat kesejahteraan SDM, maka akan baik pula kualitas pelayanan yang dapat diberikan. Sehingga dapat disimpulkan Quality of Life para SDM ini dapat menjadi salah satu indikator pariwisata yang berkualitas. Selain Quality of Tourist Experience dan Quality of life local people, kualitas investor atau quality of investor juga menjadi salah satu indikator penyelenggaraan pariwisata yang berkualitas. Menurut Gusti Rai Utama, investor tidak hanya dari pihak asing. Pemerintah pun merupakan investor yang memiliki peranan yang cukup besar dalam pengembangan pariwisata di Bali. Salah satu kontribusi pemerintah selaku investor adalah mengembangkan destinasi wisata yang sudah ada namun belum terkelola secara optimal. “Destinasi inilah yang menjadi daya tarik utama atau core business dari industri pariwisata. Pengelolaan destinasi wisata harus mempertimbangkan aspek 4A, yaitu Attraction, Accessibility, Amenity, dan Ancillary,” ujar penulis buku Pemasaran Pariwisata’ tersebut. Aspek pertama adalah attraction atau atraksi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan apa yang bisa dilihat dan dilakukan oleh wisatawan di destinasi tersebut. Kemudian accessibility atau akses menuju destinasi tersebut. Menurut Gusti Rai Utama, aspek inilah yang perlu menjadi perhatian bagi pemerintah. Ia melihat banyak destinasi wisata yang menyajikan potensi alam yang indah dan tradisi masyarakat yang unik di Bali, namun tak sedikit juga di antaranya belum terjangkau oleh para wisatawan. Entah karena infrastruktur yang kurang memadai atau tidak adanya akses transportasi menuju destinasi-destinasi yang dimaksud. Selanjutnya amenity atau amenitas, berkaitan dengan ketersediaan sarana akomodasi untuk menginap serta restoran atau warung untuk makan dan minum. Hal ini terbilang sudah cukup banyak tersedia di Bali, bahkan ada anggapan bahwa adanya overload kamar akomodasi di Bali. Terakhir adalah ancilliary berkaitan dengan ketersediaan sebuah organisasi atau orang-orang yang mengurus destinasi tersebut. Aspek ini juga cukup tersedia karena banyak organisasi atau perhimpunan pariwisata yang memiliki concern terhadap geliat pariwisata Bali. SDM Pariwisata Selain pengelolaan destinasi wisata, hal yang harus diperhatikan untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas adalah penguatan SDM. Gusti Rai Utama menilai bahwa SDM pariwisata yang ada di Bali sebenarnya memiliki keunggulan dalam hal hospitality. Kualitas pelayanan yang diberikan dibarengi karakter keramahtamahan yang merupakan kepribadian orang Bali, menjadi nilai plus para SDM lokal yang tidak dapat ditemukan di hotel berbintang di luar negeri. Hanya saja yang belum banyak diperhatikan adalah standar kompetensi para pekerja pariwisata tersebut. Standar kompetisi dapat dibuktikan melalui sertifikasi yang diuji setiap beberapa periode. Padahal faktanya di lapangan banyak pegiat pariwisata yang enggan meningkatkan kompetensi diri atau berupaya mengantongi sertifikasi yang bisa meningkatkan daya saing mereka di tengah era persaingan global seperti saat ini. Karena itulah, diperlukan sinergi antara pemerintah dengan dunia pendidikan yang merupakan pencetak para SDM pariwisata. Pemerintah sebagai pembuat dan pelaksana kebijakan menyediakan regulasi yang tepat untuk mengakomodir kebutuhan para pekerja pariwisata dalam mengakses sertifikat kompetensi. Sementara lembaga pendidikan menjadi institusi yang menyelenggarakan dan menerbitkan sertifikat kompetensi tersebut. Gusti Rai Utama menjelaskan bahwa Universitas Dhyana Pura atau populer dengan nama Undhira tersebut, selama ini telah menjadi institusi pendidikan yang membekali para lulusannya dengan sertifikat kompetensi. Pemberian sertifikasi ini juga tidak dilakukan secara sembarangan melainkan telah melalui proses uji kompetensi terlebih dahulu. Diharapkan melalui sertifikat sesuai kompetensi masing-masing, para lulusan Undhira siap terjun di dunia kerja. Undhira merupakan perguruan tinggi swasta yang berwawasan kepariwisataan berkelanjutan. Seluruh program studi yang ada di Undhira dirancang untuk mencetak SDM profesional yang dapat terjun di industri pariwisata. Namun jangan salah, prodi yang ditawarkan tidak hanya sebatas berkaitan dengan kegiatan perhotelan atau pun perjalanan wisata. Ada pula prodi yang mempelajari ilmu di bidang medis. Salah satunya adalah program S1 Fisioterapi. “Sekilas tidak nampak hubungan langsung antara tenaga fisioterapis dengan kegiatan pariwisata. Dalam kegiatan wisata tidak dapat dipungkiri adanya resiko cidera fisik yang dapat dialami sewaktu-waktu oleh wisatawan selama berwisata. Pada saat momen itulah dibutuhkan tenaga medis yang tidak hanya menguasai wawasan kesehatan juga memiliki kecakapan komunikasi dengan para wisatawan itu. Maka dalam kegiatan perkuliahan program S1 Fisioterapi, mahasiswa tidak hanya belajar seluk beluk fisioterapis juga belajar mengenai hospitality dan bahasa asing,” kata rektor peraih gelar Magister Manajemen Agribisnis Udayana tahun 2005 dan Master of Arts di CHN Professional University Leeuwarden, Belanda Tahun 2007 ini. Selain program S1 Fisioterapi, terdapat prodi lainnya yang tergabung di Fakultas Ilmu Kesehatan dan Sains. Antara lain Gizi S1, Kesehatan Masyarakat S1, Psikologi S1, Perekam Dan Informasi Kesehatan S1, dan Biologi S1. Sementara di Fakultas Ekonomika dan Humaniora terdapat jurusan sebagai berikut Akuntansi S1 Manajemen S1 Pemasaran Digital D3 Pengelolaan Perhotelan D4 Pendidikan Guru PAUD S1 Pendidikan Vokasional Kesejahteraan Keluarga S1 dan Sastra Inggris S1. Satu lagi fakultas lainnya adalah Teknologi dan Ilmu Komputer, menaungi dua prodi yaitu Ilmu Komputer dan Sistem Informatika. Profil Gusti Rai Utama Memimpin perguruan tinggi yang menaungi 15 prodi dengan jumlah mahasiswa mencapai orang, bukanlah suatu perkara yang mudah. Diperlukan sikap leadership yang baik guna mencapai sasaran target yang telah ditetapkan. Sejak dilantik pada 2019 lalu, Gusti Rai Utama telah mencanangkan program “Undhira 1000” guna menyiapkan akreditasi institusi dan mencapai target penerimaan mahasiswa baru. Selain itu ia beserta jajaran pimpinan di Undira lainnya tengah mewujudkan visi universitas teladan dan unggulan melalui implementasi tujuh Karakter. “Percaya diri, integritas, keberagaman, kewirausahaan, kepemimpinan yang melayani, profesionalitas dan wawasan global”. Pencapaian sebagai pemucuk pimpinan di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Bali, merupakan buah dari perjalanan kerja keras seorang Gusti Rai Utama. Perjuangan dipenuhi kucuran keringat dan air mata, telah ia lalui bahkan sejak di masa kanak-kanak. Pria yang terlahir dari keluarga dengan kondisi finansial yang kurang baik ini mengaku termotivasi untuk bekerja keras sejak kecil demi meningkatkan taraf hidupnya. Ia memahami bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar yang dapat membawanya terhubung dengan keberhasilan. Maka ia senantiasa bersemangat tatkala mendapat kesempatan menimba ilmu di sekolah formal. Tamat dari SMA di tahun 1990, ia melanjutkan ke PPLP Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pariwisata Dhyana Pura mengambil jurusan Tata Boga. Selanjutnya di tahun 1996 ia melanjutkan ke jenjang S1 Ekonomi Universitas Mahasaraswati. Sambil berkuliah, ia juga bekerja paruh waktu sebagai sopir. Ia menuturkan tidak pernah merasa berkecil hati pernah memiliki masa lalu sebagai sopir. Ia justru bangga karena telah dapat membuktikan diri telah mampu mentransformasikan kehidupannya lewat kerja keras dan tekun berusaha. Setelah menyandang gelar Sarjana Ekonomi, ia mendapat tawaran mengajar sebagai dosen di Sekolah Tinggi Manajemen Dhyana Pura. Kesempatan inilah yang menjadi momentum bagi Gusti Rai Utama untuk mengubah keadaan hidupnya. Sejak saat itu pula banyak kesempatan emas yang ia dapatkan, salah satunya mendapatkan beasiswa berkuliah di Negeri Belanda. Setelah itu kariernya kian meningkat, selain menjadi dosen ia juga kerap menjadi pembicara dalam seminar juga menerbitkan berbagai buku. Sempat menjabat sebagai Wakil Rektor, kini Gusti Rai Utama dipercaya menjadi Rektor Undhira. Kisah perjalanan hidupnya tentu dapat menjadi sumber inspirasi, terutama bagi kalangan generasi muda. Gusti Rai Utama berpesan, kepada siapa pun yang merasa terlahir dari keluarga kurang mampu dan tidak memiliki akses menuju cita-cita, jangan sampai berkecil hati. Justru keterbatasan itulah hendaknya dijadikan cambuk motivasi untuk berusaha mencapai apa pun yang diinginkan. Sementara untuk siapa saja yang hidup dengan segala kemudahan untuk jangan terlena dengan apa yang dimiliki. Segera keluar dari zona nyaman dan berusaha secara mandiri, sebab apa yang kita miliki sekarang tidaklah bersifat abadi. Sumber ResearchGate has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication.

bagaimanakah prinsip pengembangan kegiatan pariwisata